Aktif di Medsos, Media China Juluki Pejabat Prajurit Serigala

CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 00:35 WIB
Ilustrasi Menggunakan iPhone Ilustrasi penggunaan media sosial. (Foto: MariusMB/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Media pemerintah China menggunakan istilah baru untuk menyebut para pejabat pemerintahan dengan sebutan prajurit serigala (wolf warrior). Julukan tersebut muncul ketika para pejabat China semakin agresif menanggapi kritik di media sosial.

Dalam konferensi pers di Beijing pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan China akan menyerang balik setiap bentuk penghinaan yang disengaja.
 
"Kami tidak pernah melakukan perkelahian atau menggertak orang lain. Tapi kami memiliki prinsip dan nyali. Kami akan menyerang balik terhadap penghinaan yang disengaja, dengan tegas membela kehormatan dan martabat nasional kami, dan kami akan membantah semua fitnah yang tidak berdasar dengan fakta," kata Wang, menanggapi sebuah pertanyaan dari CNN.
 
Prajurit serigala mewakili tipe diplomat yang sangat berbeda dengan perwakilan China di luar negeri yang terkenal ramah dalam beberapa dekade terakhir.
 
Alih-alih memberi pernyataan panjang, prajurit serigala memanfaatkan Twitter dan platform media sosial lainnya untuk membalas langsung setiap kritik yang ditujukan kepada China atau Partai Komunis yang berkuasa.
 
Sebenarnya, Wolf Warrior adalah sebuah judul film series aksi patriotik yang sangat sukses di China. Series itu menampilkan tokoh protagonis seperti Rambo yang melawan musuh di dalam dan luar negeri untuk membela kepentingan China.
 
Film pertamanya dirilis pada tahun 2015 dan menghasilkan lebih dari 545 juta yuan atau sekitar US$76 juta.
 
Setelah meraih respon positif, film ini kembali menelurkan sekuel keduanya pada 2017 lalu dengan judul Wolf Warrior 2 dan menjadi film terlaris di China.
 
Wolf Warrior bercerita tentang pasukan Tentara Pembebasan Rakyat yang dikirim ke Afrika untuk menyelamatkan warga sipil China. Film itu memiliki tagline, "Meskipun seribu mil jauhnya, siapa pun yang menghina China akan membayar akibatnya".
 
Sebagai perbandingan awal antara film dan diplomat China, pada Juli 2019 lalu ketika Zhao Lijian yang saat itu menjadi penasihat di kedutaan China di Pakistan membalas kritik AS yang dilayangkan ke China dengan keras.
 
Dalam serangkaian cuitan yang kontroversial, Zhao mengklaim AS tidak memiliki hak untuk mengkritik China atas pelanggaran HAM ketika negara itu masih memiliki masalah rasisme, ketimpangan pendapatan, dan kekerasan senjata.
 
Zhao menduga ada tempat di Washington DC di mana orang kulit putih tidak pernah pergi.
 
Cuitan itu memicu reaksi keras dari Penasihat Keamanan Nasional mantan Presiden AS Barrack Obama, Susan Rice yang menyebut Zhao sebagai aib rasis.
 
Satu tahun kemudian ketika karier Zhao baru saja berkembang, dia telah menjadi satu dari tiga juru bicara terkenal yang mengadakan konferensi pers harian Kementerian Luar Negeri China.
 
Tak hanya itu, diplomat China di seluruh dunia mulai menerapkan taktik agresif Zhao di Twitter.
 
Direktur Jenderal Departemen Informasi Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying sering mengecam kritik di akun Twitter-nya yang memiliki hampir 500.000 pengikut.
 
"Beberapa politisi mengabaikan fakta-fakta dasar dan membuat banyak kebohongan serta teori konspirasi mengenai China," kata Hua pada 24 Mei di tengah memburuknya hubungan antara AS dan China atas pandemi virus corona.
 
Duta Besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming juga menjadi prajurit serigala yang menggunakan Twitter untuk membalas kritik terhadap Beijing di Eropa.
 
Pada hari Senin, Liu mengatakan istilah prajurit serigala adalah kesalahpahaman bagi kebijakan luar negeri China.
 
Dia menyebut kebijakan luar negeri China sebagai kebijakan perdamaian luar negeri yang independen. Namun, terkadang memberi sentuhan tegas juga diperlukan.
 
"Di mana ada 'serigala,' ada seorang pejuang," kata Liu dalam jawaban yang diunggah di akun Twitter-nya.
 
Seorang pakar Partai Komunis China dan anggota senior Lowy Institute, Richard Mc.Gregor mengatakan saat ini ada perdebatan sengit di China mengenai seberapa agresif kebijakan luar negeri yang seharusnya diambil negara itu.
 
"Jelas ada perpecahan tentang bagaimana China harus melakukan diplomasi. Mungkin hanya perpecahan taktis, tapi pada saat ini, 'serigala' tampaknya memiliki kekuasaan. Saya tidak yakin ini akan bertahan lama".


(ans/evn)

[Gambas:Video CNN]