China Sebut AS Egois karena Akhiri Hubungan dengan WHO

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 09:08 WIB
(FILES) This file photo taken on February 24, 2020 shows the logo of the World Health Organization (WHO) at their headquarters in Geneva. - President Donald Trump threatened on May 18 to permanently freeze US funding to the World Health Organization unless Ilustrasi logo WHO. China mengatakan AS egois lantaran mengakhiri hubungan dengan WHO di tengah pandemi corona. (Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia -- China mengatakan Amerika Serikat egois lantaran memutuskan mengakhiri hubungan dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di tengah pandemi virus corona.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian dalam konferensi pers reguler pada Senin (1/6) mengatakan jika keputusan tersebut menandakan jika AS hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.

"Komunitas internasional umumnya tidak setuju dengan tindakan egois AS, menghindari tanggung jawab, dan merusak kerja sama internasional melawan pandemi," ujar Zhao seperti mengutip AFP.


Presiden Donald Trump pada akhir Mei lalu mengumumkan untuk memutus hubungan dengan WHO karena menganggap telah gagal mengatasi penyebaran virus corona.

Dalam pernyataan di hadapan media di Gedung Putih, ia menyebut keputusan itu diambil karena menilai ada kesalahan manajemen dalam mengendalikan pandemi global oleh WHO.

Tak hanya itu, ia juga menuding WHO sebagai 'boneka' CHina dan mengatakan penghentian pendanaan akan berlaku permanen kecuali jika lembaga tersebut membuat 'perbaikan substansif'.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Insert Artikel - Waspada Virus Corona

"Karena mereka telah gagal melakukan reformasi yang diminta dan sangat dibutuhkan, kami hari ini akan mengakhiri hubungan dengan Organisasi Kesehatan Dunia," kata Trump.

Menanggapi pernyataan tersebut, Zhao menambahkan jika tidak mungkin bagi WHO hanya melayani satu negara dan mengikuti kehendak negara yang menjadi donor terbesar.

[Gambas:Video CNN]

"Tidak mungkin (bagi WHO) melayani satu negara dan tidak boleh mengikuti kehendak negara yang memberikan dana paling besar," ujar Zhao menambahkan.

"Dalam menghadapi pandemi, penindasan atau aksi pemerasan terhadap WHO dengan mengabaikan kehidupan, tantangan bagi kemanusiaan, dan hancurnya kerja sama internasional."

Menyoal dihentikannya pendanaan oleh AS untuk WHO, Zhiang menyatakan China akan tetap memberikan dukungannya. Tak hanya itu, ia juga menyerukan negara anggota WHO lainnya untuk bersatu meningkatkan dukungan politik dan pendanaannya.

Amerika Serikat diketahui merupakan penyumbang dana terbesar kepada WHO, sekitar setidaknya US$400 juta atau sekitar Rp7,83 triliun per tahun. Sementara China memberikan dana yang lebih kecil yakni hanya US$40 juta atau sekitar Rp626 miliar setiap tahunnya.

Sebagian besar anggaran WHO diketahui merupakan kontribusi secara berkala, yang datang langsung dari negara dan pendonor lain ke tujuan yang dipilih sendiri oleh si pendonor. (AFP/evn)