Wali Kota Washington: Aksi Polisi ke Pedemo Memalukan

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 16:09 WIB
Protesters march through downtown Sacramento, Calif. in memory of George Floyd, Monday, June 1, 2020. Sacramento City officials placed a curfew starting 8 p.m. Monday night until 5 p.m. Tuesday in hope of preventing late-night violence that has seen nearly two-thirds of the properties in Sacramento's downtown business district damaged over the weekend. The protests are over the death of Floyd, a black man who died after being restrained by Minneapolis police officers Memorial Day. (AP Photo/Rich Pedroncelli) Gelombang aksi solidaritas kematian George Floyd. (Foto: AP/Rich Pedroncelli)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wali Kota Washington DC, Amerika Serikat, Muriel Bowser, menganggap penggunaan amunisi, gas air, dan semprotan merica oleh polisi terhadap pedemo kematian George Floyd memalukan.

Sejumlah titik di ibu kota, termasuk depan Gedung Putih, memang dikerumuni ribuan demonstran yang menuntut keadilan atas kematian George Floyd. Ia merupakan warga kulit hitam yang meninggal setelah lehernya ditekan oleh lutut polisi dalam penangkapan.

Padahal, Bowser mengatakan para pedemo di kotanya beraksi secara damai. Ia juga mengatakan telah menerapkan jam malam untuk membubarkan para demonstran.


"Saya menerapkan jam malam pada pukul 7 malam. 25 menit sebelum jam malam berlaku dan tanpa disulut provokasi, kepolisian federal menggunakan amunisi terhadap para pedemo yang berunjuk rasa dengan damai di depan Gedung Putih," kata Bower dalam kicauannya di Twitter, Senin (1/6).

"Itu semua hanya akan mempersulit tugas (kepolisian Washington DC)," kata Bowser seperti dilansir CNN.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kicauannya, Boswer juga mengimbau para demonstran untuk segera membubarkan diri, pulang ke rumah, dan menjaga keselamatan.

Pada Senin malam waktu setempat, Presiden Donald Trump sempat mengeluarkan pernyataan publik di halaman Gedung Putih terkait aksi demo solidaritas terhadap Floyd.

Sebelum sang presiden ke luar halaman Gedung Putih, para aparat kepolisian yang berjaga di depan melepaskan tembakan gas air mata, semprotan merica, hingga peluru karet ke arah kerumunan pedemo.

Seusai memberi pernyataan publik, Trump sempat mengunjungi sebuah gereja St. John di dekat Gedung Putih yang sempat menjadi titik panas demonstrasi.

Para polisi juga sempat menggunakan amunisi serupa untuk membubarkan para pedemo dan mensterilkan area gereja. (rds/evn)