Trump Marah Disebut Lari ke Bunker saat Demo di Gedung Putih

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 11:20 WIB
President Donald Trump speaks with reporters as he steps off Air Force One as he returns Saturday, May 30, 2020, at Andrews Air Force Base, Md. Trump is returning from Kennedy Space Center for the SpaceX Falcon 9 Launch. (AP Photo/Alex Brandon) Presiden AS Donald Trump sempat bersembunyi di bunker saat pedemo menyerbu Gedung Putih pada Jumat lalu. (Foto: AP/Alex Brandon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan marah dengan pemberitaan media yang mengatakan ia bersembunyi di ruang perlindungan bawah tanah (bunker) ketika ada aksi protes atas kematian George Floyd di luar Gedung Putih pada Jumat (29/5) malam.

Seorang sumber dekat kepada CNN mengatakan jika Trump marah dan mengatakan kepada para pembantu di Gedung Putih untuk terlihat di luar Gedung Putih pada Senin (1/6) usai aksi demo yang berujung kerusuhan disertai aksi penjarahan.

Trump pada Senin dilaporkan berjalan kaki dari Gedung Putih ke Gereja St. John yang menjadi sasaran vandalisme dan amuk massa. Sesaat sebelumnya ia memberikan pernyataan sebagai respons atas aksi demo berujung kerusuhan dan penjarahan di Washington DC.


"Saya akan memberikan penghormatan ke tempat yang sangat, sangat istimewa," ujar Trump di Gedung Putih.

Tak lama sebelum Trump memberikan pernyataan kepada awak media, polisi melepaskan gas air mata dan menembakkan peluru karet untuk membubarkan massa yang menggelar aksi demo.

Mengutip CNN, sumber mengatakan para ajudan pada Jumat lalu membawa Trump ke perlindungan bawah tanah (bunker) dan berlindung selama satu jam saat demonstran kematian George Floyd mengepung Gedung Putih.

Setelah itu Trump dibawa ke ruangannya ketika situasi sudah terkendali. Mereka juga membawa ibu negara, Melania, dan anak bungsu Trump, Barron, ke bunker.

"Jika status keamanan di Gedung Putih sudah mencapai merah, maka presiden harus dipindahkan ke Pusat Operasi Darurat (EOC). Melania Trump, Barron Trump dan seluruh anggota keluarga presiden juga harus dipindahkan," kata sumber itu.

Demonstrasi solidaritas terhadap Floyd berlangsung di puluhan kota dan negara bagian di AS. Protes pertama kali mencuat di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd pada Senin (25/5). Aksi solidaritas atas kematian Floyd bahkan meluas hingga negara Eropa dan Amerika Latin seperti Brasil hingga Selandia Baru.

Dalam sebuah rapat telekonferensi terkait penanganan unjuk rasa, Trump menganggap sebagian besar gubernur negara bagian AS dan aparat lemah dalam menindak demonstrasi yang berlangsung rusuh di beberapa wilayah.

"Jika pemerintah kota atau negara bagian menolak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi properti dan warganya, saya akan mengerahkan personel militer AS dan dengan cepat menyelesaikan masalah ini," ujar Trump. (CNN/evn)

[Gambas:Video CNN]