Pasukan Prancis Tembak Mati Tokoh Al Qaeda Afrika Utara

CNN Indonesia | Minggu, 07/06/2020 00:57 WIB
Syrian rebel fighters fire PKP Pecheneg machine guns as they prepare for an upcoming government forces offensive, in the countryside of the rebel-held northern Idlib province on September 3, 2018.
In recent days, both the government and its ally Russia have stepped up their rhetoric against the rebel presence in Idlib as they gear up for an assault, which could be the last major battle of the civil war that has torn the country apart since 2011. / AFP PHOTO / OMAR HAJ KADOUR Ilustrasi penyergapan. (AFP PHOTO / OMAR HAJ KADOUR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly mengklaim pihaknya menembak mati pemimpin organisasi teroris Al Qaeda Afrika Utara (AQIM), Abdelmalek Droukdel.

Kendati demikian, belum ada konfirmasi lebih lanjut tentang kematian Droukdel tersebut dari organisasi tersebut. Organisasi tersebut diduga meraup uang jutaan dolar AS lewat aksi penculikan dan penyanderaan orang asing selama bertahun-tahun.

Dalam kicauan di akun Twitter-nya, Jumat (5/6), Parly menjelaskan bahwa Droukdel dan beberapa anggota AQIM tewas dalam operasi militer pada Rabu lalu di kawasan utara Mali.


Parly menyatakan Droukdel adalah anggota "komite manajemen" Al Qaeda. "Pukulan telak kepada kelompok-kelompok teroris di wilayah itu yang telah beroperasi selama bertahun-tahun," ujar dia.

Selain itu, Parly menyebut pasukannya "menetralkan" banyak rekan dekat warga Aljazair itu, sambil menggambarkan operasi militer itu "sukses besar".

Dia juga mengumumkan penangkapan terhadap seorang tokoh senior di cabang regional kelompok Negara Islam itu dalam serangan ganda terhadap kelompok-kelompok saingan jihadis, bulan lalu.

Infografis Negara yang Menerima dan Tolak Pulangkan Pengikut ISISFoto: CNNIndonesia/Fajrian
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan para pemimpin negara kelompok G5 Sahel yakni Mauritania, Mali, Burkina Faso, Niger, dan Chad meluncurkan rencana baru untuk memerangi kelompok bersenjata di daerah tersebut, pada Januari.

Dalam video yang dirilis oleh kelompok pemantau ekstremis SITE pada Maret lalu, Droukdel mendesak pemerintah di kawasan Sahel untuk mengakhiri kehadiran militer Prancis. Dia juga menyebut pasukan Prancis sebagai "tentara pendudukan."

Dikutip dari Associated Press, waktu keberadaan Droukdel di Mali juga tidak bisa dipastikan. Namun, selama bertahun-tahun ia dianggap bersembunyi di wilayah Kabyle di sebelah timur Aljazair.

Banyak warga Aljazair yang mempertanyakan alasan ia tidak pernah ditangkap oleh aparat keamanan. Padahal, pasukan Aljazair dalam beberapa dekade aktif melakukan latihan penanggulangan terorisme.

Hal itu yang kemudian menyebabkan terjadinya pengerahan militer Prancis ke Mali pada 2013, yang berupaya menandingi kelompok ekstremis di selatan Mali dan ibu kota Bamako.

Droukdel yang memiliki nama alias Abu Musab Abdul Wadud mengubah kelompok salafi GSPC menjadi AQIM. Kelompok ini lantas menebar teror di kawasan Sahel, atau wilayah transisi antara Sahara di utara dan padang savana di selatan Afrika.

[Gambas:Video CNN]

(ndn/ayp)