Nasib Tunawisma dan Ancaman Gelombang Kasus Baru di Inggris

CNN Indonesia | Minggu, 07/06/2020 10:47 WIB
In this Friday, March 20, 2020 photo, Boris, 42, from Bulgaria, sleeps under a blanket in the street in Barcelona, Spain. While Spanish authorities tell the public that staying home is the best way to beat the coronavirus pandemic, some people are staying out because home has come to mean the streets of Madrid and Barcelona. Authorities are scrambling to get as many homeless people off the streets without cramming them into a group shelter, where the risk of getting infected with the virus could be even greater. (AP Photo/Emilio Morenatti) Ilustrasi tunawisma. Jelang program merumahkan sementara para tunawisma yang akan berakhir, Inggris menghadapi dilema ancaman gelombang baru pandemi bila mereka kembali ke jalanan. (AP/Emilio Morenatti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan tunawisma di Inggris mendapatkan kamar hotel untuk melindungi mereka dari pandemi Covid-19. Namun kondisi kurva yang mulai melandai di negara tersebut membuat sejumlah pihak khawatir mereka akan kembali ke jalanan.

Lisa adalah salah satu dari 15 ribu orang di Inggris yang mendapatkan akomodasi darurat sebagai bagian dari skema 'dadakan' pemerintah melalui program Everyone In kala pandemi menyebar pada Maret lalu.

Kala mendapatkan kamar hotel cuma-cuma itu, Lisa tengah mengalami sakit kronis dan telah tinggal di jalanan, dan mengandalkan penampungan sementara yang dikelola badan amal Glass Door.


"Saya sangat gembira," kata perempuan berusia 30 tahun tersebut melalui telepon. "Untuk bisa tidur di tempat tidur, rasanya seperti tidur di awan!"


Namun kamarnya di sebuah hotel di London hanya tersedia hingga akhir Juni, bertepatan dengan pemerintah setempat yang mulai melonggarkan lockdown. Ia pun kembali cemas.

"Kebijakan itu memberikan saya secercah harapan bahwa segala sesuatu bisa membaik. Ketika kalian berada di jalanan, rasanya seperti tak pernah berakhir," kata Lisa.

"Saya yakin bahwa badan amal tak akan menempatkan kami kembali ke jalanan. Namun bila itu sebuah kasus kembali ke tempat sementara seperti yang saya tempati saat ini, saya tahu siklusnya akan berulang," lanjutnya.

Sejumlah pihak meminta ketegasan pemerintah untuk segera membuat keputusan jelas terkait nasib orang seperti Lisa ketika kontrak hotel telah selesai.

"Mengembalikan orang-orang kembali ke jalanan bukanlah sebuah pilihan, namun waktunya habis untuk mencari solusi alternatif," kata kepala operasional Glass Door, Lucy Abraham.


Ada pula seruan untuk pemerintah Inggris bertindak lebih luas di tengah ancaman jumlah tunawisma akan meningkat sebagai imbas dampak pandemi terhadap ekonomi.

"Aksi dan dukungan pemerintah sejauh ini diterima, namun masih ada tugas menanti," tulis pernyataan bersama badan amal di Inggris kepada pemerintah.

"Dengan risiko gelombang kedua dan krisis ekonomi yang membayangi, masih banyak yang harus dilakukan. Mendapatkan hak ini sangat penting untuk kesehatan dan keamanan ekonomi puluhan ribu orang dan keluarga," lanjutnya.

Sejumlah badan amal telah memperingatkan bahwa orang-orang yang tinggal di jalanan atau di hostel yang penuh amat rentan terhadap Covid-19 yang telah membunuh 40 ribu orang di Inggris.

Pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson merespons hal tersebut dengan upaya yang luar biasa, merumahkan 14.610 orang tunawisma atau calon gelandangan di Inggris. Sebanyak 4.450 orang di antaranya ada di London.


Banyak dari mereka diberikan kamar di hotel-hotel yang tutup karena pandemi. Hal itu memberikan lingkungan aman dan nyaman yang belum pernah dirasakan orang-orang itu selama bertahun-tahun.

"Kami telah mendengar beberapa kisah luar biasa dari orang-orang yang benar-benar memanfaatkan kesempatan ini dan menunjukkan bahwa mereka dapat menahan masa sewa," kata Balbir Chatrik, dari yayasan amal tunawisma Centrepoint.

"Tetapi banyak lagi yang membutuhkan jenis dukungan intensif yang hanya dapat diberikan bersamaan dengan akomodasi yang stabil," lanjutnya.

AFP melaporkan ada kelangkaan pemukiman umum di Inggris dan pemerintah daerah setempat selaku penanggung jawab atas masyarakat tunawisma telah mengalami pemotongan dana dari pemerintah pusat selama bertahun-tahun.

Penelitian dari badan amal menunjukkan tunawisma telah naik 141 persen dalam sedekade terakhir.

Masih Bertambah

Pada pemilihan Desember lalu, pemerintahan Boris Johnson berjanji mengakhiri situasi sosial tersebut dalam lima tahun dengan alokasi anggaran 650 juta poundsterling.

Menteri Perumahan Rakyat Robert Jenrick mengatakan pada bulan lalu bahwa ia akan mempercepat pemberian 6.000 unit rumah baru, dengan 3.300 tersedia pada tahun depan.

Sementara itu, para aktivis menyebut penambahan tunawisma masih tetap terjadi di tengah pandemi. Banyak orang menjadi gelandangan sejak Maret lalu, salah satunya dari tahanan yang baru dibebaskan dari penjara namun tak mendapatkan skema kamar hotel itu.

Ada pula kekhawatiran bahwa pembatasan bantuan pemerintah berdasarkan status imigrasi, yang sebenarnya telah ditangguhkan, diberlakukan kembali di sejumlah daerah.

"Ada orang yang berpaling dari dukungan itu meskipun fakta bahwa pandemi terus berlanjut," kata Jasmine Basran dari badan amal penampungan Crisis.

"Dan itu menempatkan orang dalam situasi yang sangat berbahaya." lanjutnya. (AFP/end)

[Gambas:Video CNN]