Penundaan kampanye yang akan menjadi kembalinya Trump ke depan pendukungnya untuk keterpilihan kembali sebagai Presiden AS itu disampaikan lewat akun twitter-nya, Jumat (12/6).
Ia mengatakan bakal menunda kampanye yang seharusnya digelar 19 Juni demi menghormati kegiatan hari libur yang dikenal dengan istilah Juneteenth. Pada kicauan selanjutnya, Trump mengatakan kampanye itu akan digelar sehari setelah 19 Juni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di negara Amerika Serikat sendiri selama hampir sebulan terakhir sedang diguncang aksi antirasialisme setelah puncak gunung es yang pecah atas kematian warga kulit hitam George Floyd.
Trump juga dikritik karena ia memilih Tulsa--kota yang menjadi kerusuhan rasial paling mematikan dalam sejarah AS--sebagai tempat kampanye tersebut. Tulsa adalah kota terbesar kedua di Negara Bagian Oklahoma, Amerika Serikat.
Pada 1921 silam di kota ini terjadi aksi kekerasan rasial yang kemudian dikenal dengan istilah Black Wall Street Massacre selain Tulsa Race Riot. Kala itu kelompok White Supremacist menyerang warga kota berkulit hitam dan bisnis merak di distrk Greenwood, Tulsa selama kurun waktu 31 Mei-1 Juni 1921.
"Ini bukan hanya sebuah kedipan menggoda bagi 'white supremacists'--[dengan memilih Tulsa] dia (Trump) telah melemparkan sebuah undangan pesta selamat datang [bagi pendukung white supremacists]," sindir Senator AS yang juga seorang warga berkulit hitam, Kamala Harris.
Dalam Pilpres mendatang tokoh Partai Republik itu bakal diduga kuat bersaing ketat dengan kandidat Partai Demokrat yang juga eks Wakil Presiden AS, Joe Biden. (afp/kid)