Dituduh Bawa Aib, 3 Perempuan Iran Dibunuh dalam Sebulan

Al Monitor, CNN Indonesia | Selasa, 23/06/2020 08:11 WIB
The dead woman's body. Focus on hand Ilustrasi pembunuhan. Tiga perempuan Iran dihabisi akibat 'Honor Killing' karena tuduhan sikap dan perbuatan mereka membawa aib. (Istockphoto/aradaphotography)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam empat pekan terakhir, warga Iran dikejutkan oleh tiga kasus 'pembunuhan demi kehormatan' (honor killing) terhadap tiga perempuan yang memicu perdebatan publik.

Kasus itu dinilai mengerikan dan publik mendesak praktik itu untuk dihapuskan.

Dilansir Al-Monitor, Senin (22/6), kasus terakhir dilaporkan terjadi di kota dekat provinsi Kerman pada pekan lalu. Ayah dari Reyhaneh Ameri mengaku membunuh putrinya yang berusia 25 tahun menggunakan sebatang besi, sebelum memindahkan mayatnya ke gurun terdekat.

Detail kejadian masih belum diungkap. Anggota keluarga lainnya mengatakan kepada media bahwa sang ayah sempat cekcok karena korban pulang larut malam.


Awal pekan lalu, Habib Barahi berusia 23 tahun menyerahkan diri ke kantor polisi setempat di kota Abadan di barat daya. Dia mengaku telah memenggal istrinya, Fatemeh, yang berusia 19 tahun.

Sejumlah laporan menyebutkan Fatemeh dipaksa menikah dan melarikan diri selama berbulan-bulan ke tempat penampungan di kota Mashhad.

Kedua kasus itu dipublikasikan saat warga Iran belum lupa dari kisah mengerikan Romina Ashrafi (14). Dia tewas dipenggal oleh ayahnya menggunakan sabit ketika sedang tidur di rumahnya di pedesaan bagian utara negara itu.

Kematian Romina terjadi setelah dia kawin lari dengan seorang pria berusia 17 tahun. Media Iran melaporkan, ayah Romina, Reza Ashrafi, selama beberapa pekan merenungkan upaya pembunuhan tersebut setelah dia mengetahui tentang hubungan putrinya.

Dilaporkan, dia menghubungi seorang pengacara dari kerabat dekatnya dan ia diyakinkan bahwa di bawah hukum pidana Iran, seorang ayah yang membunuh anaknya tidak akan menghadapi hukuman mati.

Putusan itu biasanya dijatuhkan kepada mereka yang dengan sengaja membunuh seseorang.


Sebelum kasus Romina, RUU kontroversial tentang perlindungan hak-hak anak telah dihentikan karena perselisihan di kalangan politikus.

Dalam kasus Romina, RUU yang didorong oleh aktivis dan pejabat pro-reformasi itu kini telah ditandatangani menjadi undang-undang. Hal tersebut diharapkan bisa meningkatkan harapan terkait dukungan hukum bagi anak-anak di Iran.

Akan tetapi, masih ada celah hukum dalam beleid tersebut. Pembebasan dari hukuman mati yang dinikmati ayah yang membunuh anak perempuannya berakar pada interpretasi syariah Islam.

Pembunuhan semacam itu adalah produk dari 'masyarakat patriarki yang ditandai dengan perlakuan tidak adil terhadap wanita', tulis seorang pakar urusan wanita yang berbasis di Teheran, Elaheh Mohammadi.

Menurut sosiolog Iran, prasangka tradisional lama dan stigma yang berlaku di masyarakat setempat selama berabad-abad juga merupakan faktor yang menjadi pendorong seolah perbuatan tersebut sah. Jika mempersoalkannya maka harus melalui perdebatan sengit.


[Gambas:Video CNN]


Para sosiolog mengatakan masalah ini hanya dapat diatasi melalui kampanye selama bertahun-tahun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

"Kami terlambat, tetapi kami harus mulai sekarang. Bahkan jika para pembunuh dijatuhkan hukuman mati, kita masih akan terus menyaksikan pembunuhan demi kehormatan, karena kita berurusan dengan kepercayaan tradisional yang mengakar, yang jauh lebih kuat daripada ketakutan untuk dieksekusi," tulis seorang pengguna Twitter di Iran.

(ans/ayp)