Senat Usulkan AS Beli Sistem Rudal S-400 Rusia dari Turki

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 21:26 WIB
Russian S-400 Triumf surface-to-air missile launchers roll ahead of a second night of rehearsals for the WWII Victory Parade in front of a banner informing of a national vote on constitutional changes in Moscow on June 18, 2020. - Russia's President Putin on June 24 will preside over a massive military parade to mark Soviet victory in World War II, which was postponed due to the coronavirus pandemic. (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP) Sistem rudal S-400 buata Rusia. AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Jakarta, CNN Indonesia --

Senat Amerika Serikat mengusulkan pemerintah membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia dari Turki. Senat menyarankan pembelian dilakukan di bawah undang-undang yang telah diusulkan pekan lalu.
 
Proposal itu merupakan salah satu upaya anggota parlemen untuk mengurangi kebuntuan antara Washington dan Ankara atas jet tempur F-35.

AS dan Turki diketahui berselisih terkait pembelian sistem pertahanan udara rudal S-400 dari Rusia.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak membatalkan pembelian sistem itu meskipun ada peringatan dari Washington. AS menyebut sistem pertahanan udara buatan Rusia itu tidak kompatibel dengan NATO dan dapat menimbulkan ancaman bagi jet-jet F-35 Lockheed Martin Corp.

Anggota Senat, John Thune telah mengusulkan amandemen UU Otorisasi Pertahanan Nasional 2021 yang memungkinkan pembelian menggunakan akun pengadaan rudal Angkatan Darat AS.
 
Dilansir dari Defense News, Selasa (30/6) langkah ini dilakukan setahun setelah AS mengeluarkan Turki dari program F-35.
 
Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Jim Risch, R-Idaho memperkenalkan amandemen UU yang lebih keras untuk mendesak administrasi Presiden Donald Trump menerapkan sanksi CAATSA atas Turki dalam waktu 30 hari setelah berlakunya NDAA.
 
Riisch mengkritik Erdogan dan menuduhnya memiliki iktikad buruk dalam urusan dengan AS karena membeli sistem S-400.
 
Di bawah CAATSA atau Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi yang disahkan pada 2017, negara manapun yang membeli alat pertahanan utama dari Rusia harus menghadapi sanksi besar.
 



Trump memutuskan membatalkan proyek penjualan jet tempur F-35 karena Turki tetap melanjutkan kontrak pembelian S-400 buatan Rusia. Namun dia menunda menjatuhkan sanksi terhadap Turki.

Mantan pejabat Pentagon untuk kebijakan Eropa dan NATO, Jim Townsend mengatakan dengan cara itu AS dapat dua keuntungan sekaligus, yakni mengeksploitasi teknologi S-400 serta menyingkirkan sistem itu dari Turki. 

"Saya pikir (dengan) AS membeli S-400 dari Turki akan menjadi cara cerdas untuk mengeluarkan Erdogan dari kebuntuan. Kami hanya ingin mengeluarkan sistem (S-400) dari Turki, dan jika itu memungkinkan pihak Turki ambil bagian dalam F-35, maka semuanya akan menjadi lebih baik," kata Townsend.
 
Draf Komite Otoritas Layanan Bersenjata Senat sudah membahas Turki dan program F-35. Secara khusus, ini memberi Angkatan Udara AS wewenang untuk menerima, mengoperasikan, atau bahkan memodifikasi enam model F-35A yang dibangun oleh Lockheed Martin untuk Turki.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]