Fasilitas Nuklir Terbakar, Iran Siapkan Serangan Balasan

CNN Indonesia | Minggu, 05/07/2020 04:10 WIB
A picture taken on November 10, 2019, shows an Iranian flag in Iran's Bushehr nuclear power plant, during an official ceremony to kick-start works on a second reactor at the facility. - Bushehr is Iran's only nuclear power station and is currently running on imported fuel from Russia that is closely monitored by the UN's International Atomic Energy Agency. (Photo by ATTA KENARE / AFP) Ilustrasi Iran. (ATTA KENARE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengancam akan melancarkan balasan terhadap siapa saja yang melakukan serangan siber pada situs nuklir mereka.

Hal ini disampaikan usai kebakaran dilaporkan terjadi di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Provinsi Isfahan yang menjadi situs nuklir utama Iran pada Kamis (2/7). Diduga akibat sabotase siber.

"Merespons serangan siber adalah bagian dari wewenang pertahanan negara. Jika terbukti bahwa negara ini menjadi target serangan siber, maka kami akan membalas," ujar Kepala Badan Pertahanan Sipil Iran, Gholamreza Jalali seperti dikutip dari AFP, Sabtu(4/7).


Di hari yang sama, kantor berita IRNA menyatakan kemungkinan sabotase dilakukan oleh musuh-musuh Iran. Pemerintah Iran selama ini disebut telah berusaha mencegah krisis dan menyiapkan formasi untuk keadaan tak terduga.

"Namun dengan aksi melewati garis batas Republik Islam Iran yang dilakukan oleh negara-negara musuh, khususnya rezim Zionis dan AS, berarti strategi itu harus diperbaiki," tulis IRNA.

Badan keamanan Iran menyebutkan penyebab kebakaran di Natanz telah diketahui, namun akan diumumkan menunggu saat yang tepat karena pertimbangan keamanan.

Situs pengayaan uranium Natanz, yang sebagian besar berada di bawah tanah, adalah satu dari beberapa fasilitas nuklir Iran yang dipantau oleh pengawas dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) di bawah naungan PBB.

Dianggap sebagai fasilitas pengayaan uranium utama Iran, situs Natanz adalah lynchpin dalam program nuklir Iran. Aktivitas di situs itu dipantau oleh Badan Energi Atom Internasional di bawah kesepakatan nuklir tahun 2015 yang ditandatangani oleh Iran bersama Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara besar lainnya.

Namun, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik Washington keluar dari kesepakatan itu pada 2018 dengan alasan Iran tidak mematuhi perjanjian tersebut.

Situs Natanz telah ditargetkan sebelumnya dan pada 2010 dilanda serangan siber Stuxnet, sebuah operasi canggih yang menghancurkan sebanyak 1.000 sentrifugal. Amerika Serikat dan Israel dicurigai meluncurkan serangan siber itu.

Diketahui, sebuah kecelakaan dilaporkan terjadi di fasilitas pengayaan uranium Natanz pada Kamis (2/7). Kerusakan sempat dilaporkan terjadi akibat kecelakaan tersebut. Namun, tak lama, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, menuturkan insiden itu tidak merusak situs nuklir tersebut.

Ia juga mengatakan tidak ada korban dalam kecelakaan itu dan pihak berwenang tengah menyelidiki penyebab terjadinya insiden.

"Kecelakaan terjadi pada Kamis pagi dan merusak sebuah gudang yang sedang dibangun di ruang terbuka di situs Natanz di pusat Iran," kata Kamalvandi.

Sebelumnya surat kabar Kuwait, Al-Jareeda melaporkan bahwa serangan tersebut diduga dilakukan oleh Israel, musuh bebuyutan Iran.

(mts/dea)

[Gambas:Video CNN]