Rusia Sebut Rencana RI Beli 11 Sukhoi Su-35 Masih Berlanjut

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 13:29 WIB
A Russian Sukhoi Su-35 bomber lands at the Russian Hmeimim military base in Latakia province, in the northwest of Syria on May 4, 2016. - Syria's conflict erupted in 2011 after anti-government protests were put down. Fighting quickly escalated into a multi-faceted war that has killed more than 270,000 people and forced millions from their homes. (Photo by Vasily Maximov / AFP) / MOY Jet tempur Su-35 Rusia. (Vasily Maximov / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva menegaskan rencana Indonesia membeli 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dari mereka masih berlanjut.
 
Dalam pers briefing yang digelar Rabu (8/7), dia meyakini tidak ada rencana pembatalan transaksi mengingat kontrak pembelian jet tempur itu telah ditandatangani.
 
"Tidak, rencana ini (pembelian Sukhoi Su-35) belum dibatalkan. Sejauh yang kita tahu, kontrak telah ditandatangani dan mudah-mudahan itu akan tetap terlaksana," kata Vorobieva dalam konferensi pers lewat aplikasi online.
 


Rumor pembatalan ini muncul pada Maret lalu setelah seorang pejabat Indonesia yang tak ingin disebutkan namanya menuturkan pihak Amerika Serikat telah menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi bisa kena sanksi jika terus melanjutkan kontrak dengan musuh bebuyutannya itu.
 
Dikutip dari Bloomberg, pejabat yang mengetahui kontrak pembelian jet itu mengatakan sejumlah rekan telah berulang kali mempertanyakan mengapa Indonesia tidak boleh membeli jet Rusia dalam beberapa pertemuan dengan pihak AS dan menteri pertahanan Negeri Paman Sam.
 


Amerika memang memiliki undang-undang yang dapat menjatuhkan sanksi terhadap negara lain, terutama negara mitra, jika kedapatan menjalin transaksi alat utama sistem persenjataan dengan musuh AS.




Undang-undang itu dikenal dengan Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). UU itu berlaku bagi Rusia dan beberapa negara lain yang juga dianggap AS ancaman seperti China.
 
Menanggapi kabar tersebut, Vorobieva menilai sanksi dari Amerika Serikat bukanlah masalah besar.
 


"Anda tahu bahwa AS mengancam akan menerapkan sanksi, dengan menjatuhkan sanksi terhadap setiap negara yang berhubungan dengan peralatan pertahanan Rusia. Tapi sebenarnya itu tidak menghalangi mitra dan teman-teman kami membeli peralatan dari Rusia dengan melihat kualitas produksinya," ujar dia
 
"Jadi, semoga kontrak ini (terus berlangsung) dan bukan hanya (berhenti) di sini. Ada banyak rencana lain yang harus dilalui. Jadi, rencana (pembelian Sukhoi Su-35) ini belum dibatalkan," kata Vorobieva.

Sebelumnya Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia tak bisa sembarangan membeli atau menerima hibah alutsista dari negara lain, termasuk dari Rusia.

Juru Bicara Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antar Lembaga Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut ada berbagai pertimbangan yang harus diperhitungkan ketika hendak membeli alutsista. Faktor geopolitik dan geostrategis jadi pertimbangan.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]