China dan Jerman Kritik AS yang Tetap Ingin Keluar dari WHO

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 00:04 WIB
Picture taken 07 November 2005 shows the World Health Organisation (WHO) headquarter, in Geneva, Switzerland. Four hundred experts and decision-makers gathered 07 November, for a three-day council of war on bird flu called by the world's paramount agencies for human and animal health. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP) Ilustrasi gedung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss. (AFP/Fabrice Coffrini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah China dan Jerman mengkritik Amerika Serikat yang melapor kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk keluar dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhai Lijian, menyatakan keputusan AS memperlihatkan Negeri Paman Sam tetap menerapkan kebijakan unilateralisme dengan mengundurkan diri dari lembaga itu dan melanggar perjanjian.


"(pengunduran diri AS dari keanggotaan WHO) sama saja meremehkan upaya melawan pandemi yang dilakukan oleh seluruh dunia, dan khususnya memiliki dampak buruk terhadap negara-negara berkembang yang sangat membutuhkan dukungan internasional," kata Zhao dalam jumpa pers di Beijing, seperti dilansir Associated Press, Rabu (8/7).

Secara terpisah, Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, mengatakan keputusan AS untuk tetap keluar dari WHO merupakan bentuk kemunduran dari kerja sama di taraf internasional. Namun, dia mengatakan negara-negara anggota Uni Eropa bakal berupaya melakukan reformasi terhadap WHO.

Kementerian Luar Negeri AS dalam surat kepada PBB menyatakan bahwa mereka akan keluar dari keanggotaan WHO mulai 2021. Hal itu sebagai buntut kekecewaan Presiden AS, Donald Trump, yang menuduh WHO tidak terbuka dalam penanganan wabah virus corona, dan dinilai terlalu tunduk terhadap China.


Selama ini AS adalah penyandang dana terbesar WHO, yakni mencapai US$450 juta per tahun.

Juru bicara urusan luar negeri koalisi pemerintah Jerman, Juergen Hardt, mengatakan keputusan AS untuk tetap keluar dari WHO justru akan membuat upaya reformasi lembaga itu semakin sulit.

"Sebagai penyandang dana terbesar, kepergian AS meninggalkan kekosongan. Dan nampaknya China akan mencoba mengisi kekosongan itu. Hal itu akan semakin membuat proses reformasi di lembaga itu semakin rumit," kata Hardt.

"Sangat penting bagi Uni Eropa untuk menggunakannya sebagai kekuatan politik dan memperkuat keterlibatan di WHO dan lembaga dunia lainnya," ujar Hardt.


Secara terpisah, calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengatakan jika terpilih tidak bakal membuat AS hengkang dari WHO.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]