Erdogan Pastikan Ikon Kristen Tetap Ada di Hagia Sophia

CNN Indonesia | Minggu, 12/07/2020 16:00 WIB
People visit the Byzantine-era Hagia Sophia, one of Istanbul's main tourist attractions in the historic Sultanahmet district of Istanbul on Thursday, June 25, 2020. The 6th-century building is now at the center of a heated debate between conservative groups who want it to be reconverted into a mosque and those who believe the World Heritage site should remain a museum. (AP Photo/Emrah Gurel) Hagia Sophia kembali diubah menjadi masjid. (Foto: AP/Emrah Gurel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memastikan ikon Kristen akan tetap ada di Hagia Sophia meski beralih fungsi menjadi masjid.

Pemerintah Turki menyatakan keputusan itu tak serta menjadikan Hagia Sophia eksklusif untuk umat muslim. Katanya, gedung warisan dunia ini akan terbuka untuk seluruh kalangan baik muslim dan non-muslim.

Lebih lanjut, dengan berubahnya status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, Edrogan menyebut para pengunjung tak lagi harus membayar untuk masuk ke Hagia Sophia alias gratis.


"Karena status museum telah berubah, kami membatalkan biaya masuk. Seperti masjid lainnya, pintu akan terbuka untuk semua orang. Dengan status yang baru, Haiga Sophia akan merangkul semua orang dengan lebih tulus," kata Edrogan seperti dilansir dari CNN pada Minggu (12/7).

Meski diprotes dunia, namun Edrogan mantap dengan keputusannya. Ia menyebut keputusan ada di tangannya mengingat Hagia Sophia merupakan hak kedaulatan Turki.

"Tetapi cara Hagia Sophia akan digunakan berada di bawah hak-hak kedaulatan Turki. Kami menganggap setiap langkah yang melampaui menyuarakan pendapat merupakan pelanggaran kedaulatan kami," lanjutnya.

Diketahui, keputusan Edrogan menuai opini internasional. Salah satunya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaku kecewa atas keputusan Erdogan mengubah Hagia Sophia sebagai masjid.

[Gambas:Video CNN]

Kementerian Luar Negeri AS menyatakan Gedung Putih mendesak Turki agar tetap memberikan akses bagi semua pengunjung, meski bangunan era Bizantium itu telah diubah dari museum menjadi masjid.

"Kami kecewa dengan keputusan pemerintah Turki mengubah status Hagia Sophia," kata juru bicara Kemlu AS Morgan Ortagus beberapa waktu lalu.

Ortagus menuturkan AS memahami bahwa Turki tetap berkomitmen mempertahankan akses Hagia Sophia terbuka bagi semua dan berharap Turki dapat tetap terbuka menjelaskan rencana pengelolaan bangunan bersejarah tersebut.

Selain AS, sejumlah pihak seperti Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Rusia, dan Yunani juga turut menyesalkan perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid.

Yunani menganggap langkah Turki mengubah fungsi Hagia Sophia merupakan bentuk provokasi bagi peradaban.

Sementara itu, Gereja Ortodoks Rusia menganggap selama ini Hagia Sophia sebagai salah satu tempat suci bagi umat Kristen Ortodoks Negeri Beruang Merah.

"Ancaman terhadap fungsi Hagia Sophia merupakan ancaman bagi seluruh peradaban Kristen baik secara spiritual maupun sejarah," Ketua Gereja Ortodoks Rusia.

UNESCO pun telah melayangkan protes resmi atas alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid, terutama karena pemerintah Turki tidak mengkomunikasikan hal itu sebelumnya.

(wel/evn)