Jual Komponen Rudal ke Taiwan, Lockheed Martin Disanksi China

CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2020 07:25 WIB
US army officers stands in front a US Patriot missile defence system during a joint Israeli-US military exercise Sistem pertahanan rudal Patriot buatan Amerika Serikat. (JACK GUEZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

China akan menjatuhkan sanksi pada perusahaan industri pertahanan asal Amerika Serikat Lockheed Martin, karena terlibat dalam penjualan komponen rudal ke Taiwan.

AS sepakat memperbarui sistem pertahanan rudal Patriot milik Taiwan senilai US$620 juta atau Rp8,9 triliun. Dan Lockheed Martin akan menjadi kontraktor utama pembaruan sistem rudal tersebut.

Pembaruan alat utama sistem pertahanan (alutsista) ini dilakukan Taiwan di tengah ancaman provokasi China yang terus meningkat. "China dengan tegas menentang penjualan senjata AS ke Taiwan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri ChinaZhaoLijian, Selasa (14/7).


Dia mendesak Washington untuk mematuhi konsep bahwa Taiwan adalah bagian dari "satu China".

Zhao meminta AS menghentikan penjualan senjata dan memutuskan hubungan militer dengan Taiwan. "Demi menjaga hubungan China-AS dan perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan," ujarnya seperti dikutip dari AFP.

Kementerian Luar Negeri Taiwan langsung membalas dan mengutuk langkah China tersebut.

"Sangat penting bagi Taiwan untuk memperoleh peralatan militer dari luar negeri dan untuk memperkuat kemampuan pertahanan demi menjaga perdamaian di Selat Taiwan," kata juru bicara Joanne Ou dalam sebuah pernyataan.

"Ini juga merupakan tindakan yang sah untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan sistem demokrasi kami," ujar dia.

Pembelian sistem pertahanan rudal Patriot Advanced Capability-3 itu memang telah diprediksi memicu amarah China terhadap Taiwan dan AS.

China menganggap Taiwan sebagai wilayah pembangkang yang ingin memerdekakan diri. Belakangan, China kerap mengerahkan sejumlah jet tempur untuk menerobos wilayah pertahanan udara Taiwan.

Sementara itu, relasi China dan AS terus memanas terutama terkait pandemi virus corona (Covid-19), isu Hong Kong, dan sengketa di Laut China Selatan.

AS memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan akibat kebijakan prinsip Satu China atau One China Policy. Namun, AS memiliki perjanjian hukum dengan Taiwan yang mengikat Negeri Paman Sam untuk menyediakan sarana pertahanan bagi wilayah tersebut.

Taiwan terus memperkuat sistem pertahanan yang sebagian besar didominasi oleh perangkat senjata buatan AS. Meski begitu, China masih jauh unggul dibanding Taiwan lantaran memiliki jumlah alutsista yang lebih banyak.

Bahkan, Negeri Tirai Bambu terus menggenjot pembuatan sejumlah alutsista seperti pesawat tempur siluman hingga kapal induk sendiri demi menambah armada.

(dea)

[Gambas:Video CNN]