Putin dan Erdogan Serukan Perdamaian Armenia-Azerbaijan

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 08:46 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan pembicaraan damai untuk mengakhiri bentrokan antara Armenia dan Azerbaijan. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan pembicaraan damai untuk mengakhiri bentrokan antara Armenia dan Azerbaijan. Mereka membahas masalah tersebut lewat sambungan telepon.

Panggilan telepon atas prakarsa Turki itu terjadi setelah militer Armenia mengatakan satu tentara mereka diterjang peluru penembak jitu dari seberang perbatasan dengan Azerbaijan.

"Menggarisbawahi untuk mencegah apapun yang bisa meningkatkan ketegangan," kata Kremlin, dalam sebuah pernyataan Senin (27/7) seperti dikutip dari AFP.


Bentrokan perbatasan meletus pada pertengahan Juli antara dua negara pecahan Uni Soviet yang puluhan tahun terlibat konflik menyangkut wilayah Azerbaijan yang memisahkan diri, Nagorny Karabakh.

Sembilan belas orang termasuk dalam bentrokan perbatasan tersebut.

Baik Putin maupun Erdogan sepakat penyelesaian konflik dengan cara damai melalui pembicaraan. Rusia telah menawarkan diri untuk menjadi juru damai.

Putin dan Erdogan mengatakan perselisihan itu harus diselesaikan berdasarkan hukum internasional untuk kepentingan rakyat Armenia dan Azerbaijan.

Kementerian Pertahanan Armenia pada Senin mengatakan bahwa salah satu tentaranya tewas ditembak penembak jitu ketika situasi di perbatasan mulai kondusif.

Azerbaijan sendiri menuduh Armenia menggunakan senapan mesin kaliber besar dan senapan sniper serta melanggar gencatan senjata beberapa kali di sepanjang perbatasan selama 24 jam terakhir.

Armenia dan Azerbaijan berperang memperebutkan kawasan Nagorno-Karabakh. Wilayah itu adalah milik Azerbaijan yang diduduki oleh milisi etnis yang didukung Armenia, sejak perang di wilayah itu berakhir pada 1994.

Kedua negara memang kerap bertempur di kawasan tersebut. Konflik kali ini dinilai semakin meningkat sejak pertikaian yang terakhir kali terjadi empat tahun lalu.
Saat itu sejumlah pasukan dari kedua negara meninggal dalam pertempuran selama empat hari.

(dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK