Korut Diduga Kembangkan Perangkat Nuklir untuk Rudal Balistik

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 20:19 WIB
PBB mengungkapkan Korea Utara masih terus melanjutkan program senjata nuklirnya di tengah sanksi ekonomi dan isolasi internasional. Ilustrasi Korea Utara. (iStockphoto/narvikk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan Korea Utara masih terus melanjutkan program senjata nuklirnya di tengah sanksi ekonomi dan isolasi internasional.

Melalui sebuah laporan, panel independen PBB menuturkan sejumlah negara percaya bahwa Korut tengah mengembangkan perangkat nuklir yang cocok untuk digunakan sebagai hulu ledak pada teknologi rudal balistik.

PBB menuturkan negara-negara yang tidak disebutkan itu meyakini bahwa enam uji coba nuklir yang dilakukan Korut selama ini kemungkinan dilakukan guna mendukung pengembangan teknologi perangkat nuklir miniatur tersebut.


Korut tercatat terakhir kali melakukan uji coba nuklir yakni pada September 2017.

"Korut sedang melanjutkan program nuklir, termasuk produksi uranium yang sangat diperkaya dan pembangunan reaktor air ringan eksperimental," bunyi laporan PBB tersebut seperti dikutip The South China Morning Post pada Selasa (4/8).

Laporan tim PBB itu telah disampaikan kepada 15 anggota komite sanksi Korut Dewan Keamanan PBB pada awal pekan ini.

Dalam dokumen tersebut, panel PBB tersebut mengatakan salah satu negara yang tidak disebutkan mendapati bahwa Korut "tengah mengembangkan teknologi miniatur nuklir lebih lanjut lagi untuk pengembangan teknologi, atau kemungkinan, untuk mengembangkan beberapa sistem hulu ledak."

Laporan ini muncul tak lama setelah Pemimpin Tertinggi Korut, Kim Jong-un, mengatakan bahwa tidak ada negara yang berani berperang dengan Korut lagi karena negaranya telah memiliki senjata nuklir yang dapat menjamin keselamatan dan masa depan meski tekanan dan ancaman militer terus berdatangan.

Korut telah menjadi subjek sanksi PBB sejak 2006 akibat ambisi pengembangan program nuklir dan rudal balistik. 

DK PBB selama ini berupaya memperkuat sanksi terhadap Korut demi memotong pemasukan terhadap negara itu yang diduga digunakan untuk mengembangkan teknologi senjata kimia tersebut.

Korut sempat berencana melucuti senjata nuklir dan rudal, terutama setelah pertemuan tinggi antara Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Singapura pada Juni 2018 lalu.

Korut bahkan sempat meledakkan terowongan di lokasi uji coba nuklir utama negara itu, Punggye-ri. Meski begitu, Korut tak mengizinkan ahli internasional untuk menyaksikan langsung pembongkaran situs nuklir tersebut.

Namun, sejak itu, pembicaraan denuklirisasi antara Korut-AS mandeg. Relasi kedua negara bahkan kembali merenggang dalam beberapa bulan terakhir.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]