China Marah Kabinet AS Akan Kunjungan Resmi ke Taiwan

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 17:46 WIB
Rencana kunjungan resmi tingkat tinggi anggota kabinet Amerika Serikat ke Taiwan memicu kemarahan China. Ilustrasi bendera Taiwan dan China. (iStockphoto/Oleksii Liskonih)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rencana kunjungan resmi tingkat tinggi anggota kabinet Amerika Serikat ke Taiwan memicu kemarahan China.

Tiongkok selama ini menganggap Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya yang tertuang dalam prinsip 'Satu China' atau 'One China Policy'.

Pemerintah China menilai rencana AS itu bisa merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan membahayakan hubungan kedua negara yang saat ini berada di titik terendah sepanjang sejarah.


"China dengan tegas menentang pertemuan resmi antara AS dan Taiwan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin dalam konferensi pers rutin, Rabu (5/8) seperti dikutip dari AFP.

Selama ini China menganggap Taiwan sebagai wilayah pembangkang yang ingin memerdekakan diri, dan bersumpah akan merebut, meski dengan kekerasan.

"Kami mendesak AS untuk mematuhi prinsip satu China, menghindari hubungan Sino-AS yang membahayakan, serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan."

AS hari ini mengumumkan rencana kunjungan resmi tertinggi ke Taiwan. Kedutaan Besar Washington di Taipei mengatakan Menteri Kesehatan AS Alex Azar akan memimpin delegasi ke Taiwan. Namun tidak kapan rencana itu dilaksanakan.

Ini akan menjadi kunjungan tingkat tinggi pertama AS ke Taiwan sejak Washington mengalihkan pengakuan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979.

Kementerian Luar Negeri Taiwan telah mengonfirmasi rencana itu, dan mengatakan Azar akan bertemu dengan Presiden Tsai Ing-wen.

Taiwan selama ini menolak mengakui bagian dari China. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen yang pro-demokrasi memandang Taiwan sebagai sebuah negara yang merdeka secara de facto.

AS memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan. Namun, AS memiliki perjanjian hukum dengan Taiwan yang mengikat Negeri Paman Sam untuk menyediakan sarana pertahanan bagi wilayah tersebut.

Sementara itu, relasi China dan AS terus memanas terutama terkait pandemi virus corona (Covid-19), isu Hong Kong, dan sengketa di Laut China Selatan.

(dea)

[Gambas:Video CNN]