Trump Desak TikTok Dijual ke AS, China Buka Suara

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 16:35 WIB
China buka suara setelah Presiden Donald Trump mendesak agar operasional TikTok di Amerika Serikat dijual ke perusahaan AS. ilustrasi konflik AS-China iStockphoto/Dilok Klaisataporn
Jakarta, CNN Indonesia --

China buka suara setelah Presiden Donald Trump mendesak agar operasional TikTok di Amerika Serikat dijual ke perusahaan AS.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menganggap langkah Trump itu sebagai manipulasi politik.

Menurut Wang, AS telah telah menyalahgunakan konsep keamanan nasional untuk menekan secara tidak adil perusahaan-perusahaan tertentu.


Kata dia AS menggunakan alasan keamanan nasional untuk menindak keras perusahaan-perusahaan China, padahal mereka melakukan kegiatan bisnis sesuai dengan aturan internasional dan hukum di sana.

"AS menindak mereka dengan tuduhan palsu. Ini semua adalah manipulasi politik," kata Wang dalam konferensi pers rutin, Selasa (4/8) seperti dikutip dari AFP.

Wang juga memperingatkan AS untuk tidak membuka 'kotak pandora'.

Dia menuduh AS melakukan intimidasi langsung terhadap aplikasi video populer itu. "Ini bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi pasar dan prinsip-prinsip keterbukaan, transparansi, dan non-diskriminasi," ujarnya.

Trump diketahui memberi tenggat Tiktok dijual ke investor AS hingga 15 September. Trump mengancam bakal melarang TikTok di AS jika aplikasi video singkat milik perusahaan asal China ini tak bisa menemukan pembeli dari AS.

Microsoft merupakan salah satu perusahaan yang berniat mencaplok kepemilikan saham Tiktok.

"Bisnis ini (Tiktok) akan ditutup pada 15 September kecuali Microsoft atau perusahaan lain dapat membelinya dan mencapai kesepakatan," ujar Trump.

Tidak hanya itu, Trump menyatakan negara mesti mendapat jatah 'jumlah uang yang substansial' dalam pembelian TikTok.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan TikTok dilarang demi melindungi keamanan nasional AS.
 
Menurut dia, TikTok dan perusahaan perangkat lunak China lainnya yang beroperasi di AS seperti WeChat telah memberikan data pribadi warga AS kepada Partai Komunis China.

Pompeo mengatakan data pribadi warga AS yang dikumpulkan oleh perusahaan seperti TikTok "bisa berupa pola pengenalan wajah, informasi tempat tinggal, nomor telepon, dan teman-teman yang terhubung dengan pengguna".

(dea)

[Gambas:Video CNN]