Amonium Nitrat Meledak di Libanon Disita dari Kapal Rusia

CNN, CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2020 13:14 WIB
Ribuan ton amonium nitrat yang meledak di Pelabuhan Beirut, Libanon, disita dari kapal milik perusahaan Rusia enam tahun silam. Bangunan yang rusak berat akibat ledakan di pelabuhan Beirut, Libanon. (AFP/ANWAR AMRO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di Pelabuhan Beirut, Libanon, dan meledak ternyata disita dari kapal milik perusahaan Rusia karena melanggar sejumlah aturan enam tahun silam.

Bahan kimia tersebut diduga menjadi penyebab ledakan dahsyat yang menewaskan lebih dari 135 orang di Ibu Kota Libanon itu pada Selasa (4/8) lalu.

Sejumlah dokumen yang diperoleh CNN mengungkap bahwa kapal kargo, MV Rhosus, yang berbendera Moldova berangkat dari Batumi, Georgia, membawa 2.750 ton amonium nitrat menuju Mozambik.


Karena terjadi beberapa kendala administrasi, finansial, dan protes dari awak, kapten kapal yang bernama Boris Prokoshev memutuskan singgah di Beirut pada 2013.

Menurut Direktur Jenderal Bea Cukai Libanon, Badri Daher, sejak saat itu MV Rhosus dilaporkan tidak pernah meninggalkan pelabuhan Beirut. Padahal, Daher menyatakan sudah melayangkan sejumlah peringatan kepada kapal tersebut untuk segera merampungkan urusannya di Beirut, sebab lantaran muatannya dinilai berbahaya.

Dia mengibaratkan kapal itu bagai bom waktu yang mengambang di perairan.

"Karena bahaya ekstrem yang ditimbulkan oleh barang-barang yang disimpan dalam kondisi iklim yang tidak sesuai ini, kami tegaskan kembali permintaan kami kepada Otoritas Pelabuhan untuk segera mengekspor kembali barang-barang tersebut untuk menjaga keamanan pelabuhan dan mereka yang bekerja di sana," bunyi surat pendahulu Taher, Chafic Merhi, yang dilayangkan pada 2016 kepada hakim.

Pihak berwenang Libanon memang belum menyimpulkan bahwa muatan MV Rhosus sebagai sumber ledakan di Beirut. Namun, Perdana Menteri Libanon, Hassan Diab, mengatakan ledakan dahsyat itu disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitra, yang jumlahnya sama dengan yang diangkut kapal tersebut.

Diab juga menuturkan ribuan ton senyawa kimia itu telah tersimpan selama enam tahun di sebuah gudang pelabuhan tanpa tindakan pengamanan memadai. Hal itu dinilai membahayakan keselamatan warga.

Pada Rabu (5/8), Menteri Informasi Libanon, Manal Abdel Samad Najd, mengatakan ada serangkaian dokumen di tahun 2014 yang membuktikan bahwa ada pertukaran informasi terkait "materi" yang disita oleh aparat Bea Cukai Libanon.

Kepada saluran televisi Yordania, Al Mamlaka, informasi tersebut tengah dipertimbangkan berkaitan dengan penyebab ledakan mematikan di Beirut.

MV Rhosus merupakan kapal milik sebuah perusahaan Rusia, Teto Shipping. Perusahaan itu dimiliki oleh Igor Grechuskin, seorang pengusaha dari wilayah Khabarovsk yang tinggal di Siprus.

MV Rhosus sempat berlabuh du Yunani untuk mengisi bahan bakar sebelum menuju Libanon. Grechuskin meminta kapal itu mengambil muatan ke Libanon dengan harapan bisa menutupi ongkos perjalanan.

Kapal itu lantas ditahan oleh aparat pelabuhan Beirut karena "pelanggaran berat dalam pengoperasian kapal", belum membayar bea masuk ke pelabuhan, dan pengaduan para awak kapal yang berasal dari Rusia dan Ukraina.

Protes awak kapal MV Rhosus tercatat oleh Serikat Pelaut Rusia.

Dalam buku catatan kapten kapal, Prokoshev mengeluhkan persediaan bahan bakar dan logistik di kapal itu sangat minim padahal mereka sudah berlayar selama 11 bulan.

Infografis Fakta di Balik Ledakan Besar di Libanon

"Saya terpaksa menjual bahan bakar untuk menyewa kuasa hukum karena tidak ada yang mau menolong, pemilik kapal juga tidak menyediakan kami makanan dan air bersih," ujar Prokoshev.

Alhasil, Prokoshev dan para awak memilih meninggalkan kapal itu. Para awak asal Rusia lantas dipulangkan, tetapi gaji mereka tidak dibayar.

Alhasil ribuan ton amonium nitrat itu dibiarkan berada di dalam kapal. Aparat pelabuhan Beirut juga tidak diizinkan memindahkan muatan di kapal itu ke kapal lain.

Menurut advokat Charbel Dagher yang mewakili para awak, akhirnya aparat Libanon memindahkan muatan amonium nitrat itu ke dalam gudang pada November 2014.

Muatan itu tetap berada di sana hingga akhirnya meledak saat terjadi kebakaran pada Selasa lalu.

(rds/ayp)

[Gambas:Video CNN]