Presiden Libanon Buka Kemungkinan Serangan Rudal Picu Ledakan

CNN Indonesia | Sabtu, 08/08/2020 04:39 WIB
Presiden Libanon Michael Aoun menambah daftar dugaan penyebab ledakan besar di Kota Beirut pada Selasa (4/8) lalu. Presiden Libanon Michael Aoun menambah daftar dugaan penyebab ledakan besar di Kota Beirut pada Selasa (4/8) lalu. Ilustrasi. (AP/Hassan Ammar).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Libanon Michael Aoun membuka kemungkinan serangan rudal sebagai penyebab ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8) lalu.

Sebelumnya, Aoun menyebut ledakan itu diduga disebabkan oleh faktor kelalaian pejabat yang mengakibatkan ribuan ton amonium nitrat disimpan selama enam tahun di gudang pelabuhan.

"Ada dua kemungkinan skenario atas apa yang terjadi: kelalaian atau intervensi asing melalui rudal atau bom," ujar Aoun seperti dilansir AFP, Sabtu (8/8).


Kendati demikian, ia menolak untuk dilakukan penyelidikan internasional demi memastikan penyebab kejadian nahas itu. Menurutnya, campur tangan pihak asing dapat mengaburkan kebenaran.

Terkait penyimpanan amonium nitrat selama bertahun-tahun di pelabuhan, ia mengakui harus ada yang diubah dari sistem yang ada.

"Kami menghadapi perubahan dan mempertimbangkan kembali sistem yang dibangun berdasarkan konsensus setelah dianggap kaku dan tidak mampu mengeksekusi keputusan dengan cepat.

Adapun pemantik ledakan dari amonium nitrat yang tersimpan masih belum jelas. Sejumlah petugas menyatakan ada pekerjaan perbaikan gudang baru-baru ini. Sementara, pihak lain menduga ada kembang api yang disimpan di tempat yang sama atau dekat lokasi penyimpanan bahan kimia berdaya ledak itu.

Dugaan ledakan disebabkan oleh serangan sebelumnya digulirkan oleh Presiden AS Donald Trump yang mengklaim mendapat laporan dari militer.

"Saya bertemu dengan sejumlah jenderal dan mereka mengatakan merasa ledakan itu bukan akibat proses kecelakaan kerja. Mereka melihatnya sebagai sebuah serangan. Seperti bom atau lainnya," kata Trump dalam jumpa pers di Washington D.C., seperti dilansir Associated Press, Rabu (5/8) lalu.

Hingga kini, jumlah korban tewas dari ledakan setidaknya mencapai 154 orang. Ledakan itu juga menyebabkan ribuan orang terluka dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

(afp/sfr)

[Gambas:Video CNN]