Polisi Libanon Tembakkan Gas Air Mata ke Pedemo Anarkis

AFP, CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 08:32 WIB
Polisi Libanon menembakkan gas air mata untuk membubarkan pedemo yang melemparkan batu dan bom molotov di area gedung parlemen. Polisi dan pedemo bentrok saat protes ledakan di pelabuhan Beirut, Libanon. (Foto: AP/Hussein Malla)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang protes di Libanon meluas hingga ke area dekat gedung parlemen di Beirut dan kantor kementerian perumahan dan transportasi pada Minggu (9/8).

Koresponden AFP melaporkan polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang melemparkan batu dan bom molotov di jalan menuju gedung parlemen.

Polisi anti huru hara yang dikerahkan untuk mengamankan demo membubarkan massa yang mencoba masuk ke area Parlemen Square.


Aksi protes warga dilakukan menyusul ledakan dahsyat yang terjadi di pelabuhan Beirut, Libanon pada Selasa (4/8) petang lalu.

Sebagai buntut dari aksi protes ini, dua menteri kabinet Libanon mengundurkan diri dari jabatannya. Menteri Lingkungan, Damianos Kattar dan Menteri Penerangan, Manal Abdel Samad mengundurkan diri dari jabatannya pada Minggu (9/8).

"Mengingat malapettaka besar, saya telah memutuskan untuk menyerahkan pengunduran diri saya dari pemerintah," ujar Kattar mengumumkan pengunduran dirinya dalam sebuah pernyataan.

Aksi demo ribuan warga terjadi sejak Sabtu (8/8) sebagai bentuk kemarahan atas insiden ledakan besar di pelabuhan Beirut yang menewaskan sedikitnya 158 orang dan lebihd ari 60 orang masih hilang.

Ledakan ini dianggap sebagai hasil dari korupsi dan ketidakmampuan elit penguasa mengendalikan situasi.

Meredam aksi protes warga, Perdana Menteri Libanon, Hassan Diab berjanji untuk mempercepat pemilu. Ia beranggapan pemilu menjadi satu-satunya cara untuk 'keluar dari krisis struktural negara'.

Presiden Michael Aoun sebelumnya membuka kemungkinan adanya serangan rudal yang menjadi penyebab terjadinya ledakan dahsyat. Pernyataan ini disampaikan setelah ia menduga ada faktor kelalaian pejabat yang mengakibatkan ribuan ton amonium nitrat tersimpan selama enam tahun.

"Ada dua kemungkinan skenario atas apa yang terjadi: kelalaian atau intervensi asing melalui rudal atau bom," ujar Aoun seperti dilansir AFP.

Kendati demikian, ia menolak untuk dilakukan penyelidikan internasional demi memastikan penyebab kejadian nahas itu. Menurutnya, campur tangan pihak asing dapat mengaburkan kebenaran.

(evn)

[Gambas:Video CNN]