Konflik Makin Tajam, Dubes AS untuk China Mengundurkan Diri

CNN, CNN Indonesia | Senin, 14/09/2020 19:48 WIB
Dubes AS untuk China, Terry Branstad, bakal mengundurkan diri diduga dipicu konflik di antara kedua negara yang semakin tajam. Dubes AS untuk China, Terry Branstad, bakal mengundurkan diri diduga dipicu konflik di antara kedua negara yang semakin tajam. (AFP Photo/Nicholas Asfouri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar Amerika Serikat untuk China, Terry Branstad, bakal mengundurkan diri dari jabatannya diduga karena dipicu konflik di antara kedua negara yang semakin tajam.

Informasi itu diperoleh dari sebuah sumber yang dikonfirmasi CNN, Senin (14/9).

Menurut sumber itu, Branstad diperkirakan akan meninggalkan Beijing sebelum pemilihan umum AS pada 3 November mendatang.


Pengumuman tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China di berbagai bidang.

Pada Jumat pekan lalu, pemerintah China mengumumkan bahwa mereka akan memberlakukan pembatasan yang tidak ditentukan terhadap diplomat dan personel senior AS di China. Langkah itu menyusul AS yang memberlakukan tindakan serupa, yakni menargetkan korps diplomatik Beijing pada 3 September.

Dalam sebuah unggahan di Twitter pada Senin pagi waktu setempat, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Branstad atas jasanya kepada rakyat AS sebagai duta besar.

"Presiden (Donald Trump) memilih Duta Besar Branstad karena pengalamannya selama puluhan tahun berurusan dengan China, membuatnya menjadi orang terbaik untuk mewakili pemerintah dan untuk membela kepentingan dan cita-cita Amerika dalam hubungan penting ini," tulis Pompeo.

Dia tidak memberikan alasan mengenai mundurnya Branstad atau pengumuman tentang calon penggantinya.

Branstad adalah salah satu duta besar pertama yang ditunjuk Presiden Trump pada Desember 2016, tak lama setelah Trump memenangkan pemilihan presiden AS.

Saat itu, Trump mengatakan dia memilih Branstad karena pengalamannya dalam kebijakan publik, perdagangan, dan pertanian, serta "hubungan lama dengan Presiden Xi Jinping" yang dikenal Branstad sejak 1985 melalui pertukaran pemerintah AS-China.

Selama periode itu, keduanya diyakini telah menjalin persahabatan.

Awalnya, pengangkatan Branstad disambut baik oleh China. Saat itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, memujinya sebagai "teman lama rakyat China".

Meski demikian, seiring waktu, Branstad harus melalui salah satu periode paling sulit dalam hubungan AS dan China.

Pada 9 September, Branstad menulis opini yang menuduh pemerintah China "mengeksploitasi" keterbukaan AS dalam beberapa dasawarsa terakhir. Juru Bicara Partai Komunis menolak opini itu diterbitkan oleh surat kabar People's Daily karena "sangat tidak konsisten dengan fakta".

"Jika Anda memang ingin menerbitkan opini ini di People's Daily, Anda harus melakukan revisi substansif berdasarkan fakta dalam prinsip kesetaraan dan saling menghormati," kata media pemerintah China dalam surat penolakannya.

Sebagai tanggapan, Pompeo menuduh People's Daily "munafik" dengan mengatakan bahwa jika pemerintah China adalah kekuatan yang matang, ia akan "menghormati hak diplomat Barat untuk berbicara langsung kepada rakyat China".

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]