Hamas-Israel Saling Serang usai Berdamai dengan UEA-Bahrain

Associated Press, CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 16:11 WIB
Israel dan Hamas kembali saling serang, setelah negara itu meneken kesepakatan normalisasi hubungan dengan UEA dan Bahrain. Ilustrasi serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina. (Mahmud Hams / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Angkatan Bersenjata Israel dan Hamas kembali terlibat saling serang, setelah negara itu menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, pada Selasa (15/9) kemarin.

Dilansir Associated Press, Rabu (16/9), Hamas dilaporkan terlebih dulu melepaskan sejumlah roket ke arah Israel. Serangan itu dilaporkan melukai dua orang.

Sebagai balasan, Israel menggelar serangan udara menargetkan situs milik Hamas di Jalur Gaza.


Akibat tembakan roket dari Jalur Gaza, sirene tanda bahaya menyalak di seluruh kawasan selatan Israel. Militer Israel mengatakan lima proyektil mendarat di daerah terbuka dan sisanya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Sebagai balasan, militer Israel menyatakan mereka menyerang sekitar 10 situs milik Hamas di Jalur Gaza, termasuk bangunan yang diyakini sebagai pabrik pembuatan senjata dan bahan peledak, infrastruktur bawah tanah, dan kompleks pelatihan militer.

Saling serang antara Hamas dan Israel itu memperlihatkan kemungkinan besar perjanjian yang diteken di Gedung Putih tidak akan banyak mengubah peta konflik Israel dengan Palestina.

Selain perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Israel, UEA, dan Bahrain, ketiganya menandatangani dokumen yang dijuluki "Abraham Accords" yang diambil dari nama nabi dari tiga agama monoteistik utama dunia.

Palestina diketahui menentang perjanjian tersebut dan melihatnya sebagai bentuk pengkhianatan atas keinginan negara-negara Arab yang menginginkan Palestina merdeka.

Selain itu, Palestina pun bersumpah bahwa kesepakatan tersebut dan kesepakatan lain yang mungkin menyusul tidak akan merusak tujuan mereka.

Baik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, maupun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak menyebutkan orang-orang Palestina dalam sambutan mereka pada upacara penandatanganan.

Sebaliknya Menteri Luar Negeri UEA dan Bahrain berbicara tentang pentingnya menciptakan negara Palestina.

Setelah kembali dari Washington, Netanyahu mengatakan dia tidak terkejut dengan serangan roket itu.

"Mereka tidak ingin kedamaian tetapi mereka tidak akan berhasil," kata Netanyahu.

"Kami akan menyerang dengan keras semua orang yang berusaha menyakiti kami dan mengulurkan tangan dengan damai kepada semua orang yang tangannya terulur untuk berdamai dengan kami," tambah Netanyahu.

Hamas telah memerintah Gaza sejak 2007, ketika mereka merebut kekuasaan dari Otoritas Palestina yang didukung secara internasional. Israel dan Mesir telah memberlakukan blokade yang melumpuhkan di wilayah pesisir sejak itu.

Sejumlah kelompok militan Palestina beroperasi di Gaza, tetapi Israel menganggap Hamas bertanggung jawab atas semua serangan dan biasanya menanggapi tembakan roket dengan serangan udara ke sejumlah titik sasaran.

Israel dan Hamas telah berperang tiga kali dan beberapa pertempuran kecil sejak 2007. Sementara itu Mesir dan Qatar telah menengahi gencatan senjata tidak resmi di antara keduanya dalam beberapa tahun terakhir.

UEA dan Bahrain adalah negara Arab, setelah Mesir dan Yordania, yang mengakui Israel. Balai Kota di Tel Aviv diterangi dengan kata "perdamaian" dalam bahasa Inggris, Ibrani dan Arab setelah perjanjian itu diteken.

Di Yerusalem, pihak berwenang memproyeksikan bendera AS, Israel, UEA, dan Bahrain di tembok Kota Tua.

(ndn/ayp)

[Gambas:Video CNN]