Ribuan Warga China Terinfeksi Bakteri dari Limbah Pabrik

CNN, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 07:52 WIB
Ribuan orang di Kota Lanzhou, China, dinyatakan positif mengidap penyakit Brucellosis akibat terinfeksi bakteri. Ilustrasi Kota Lanzhou, China. Ribuan orang di Kota Lanzhou, China, dinyatakan positif mengidap penyakit Brucellosis akibat terinfeksi bakteri. (Istockphoto/Roberto Lo Savio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan orang di kawasan barat laut China dinyatakan positif mengidap penyakit akibat terinfeksi bakteri.

Bakteri tersebut muncul usai kebocoran limbah pada sebuah perusahaan biofarmasi pada tahun lalu.

Melansir CNN, Kamis (17/9), Komisi Kesehatan Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu, China mengungkap 3.245 orang terjangkit penyakit brucellosis.


Jumlah tersebut bertambah setelah sebelumnya ada 1.401 orang lainnya dinyatakan positif. Komisi Kesehatan menyatakan tidak ada korban jiwa karena wabah itu.

Penyakit yang juga dikenal sebagai demam Malta atau demam Mediterania ini dapat menyebabkan gejala sakit kepala, nyeri otot, demam, dan kelelahan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat meskipun gejala yang ada mungkin mereda, beberapa gejala bisa menjadi kronis atau tidak pernah hilang, seperti radang sendi atau pembengkakan pada organ tertentu.

Lebih lanjut CDC menjelaskan penularan penyakit itu dari manusia ke manusia sangat jarang. Kebanyakan orang terinfeksi dengan makan makanan yang terkontaminasi atau menghirup bakteri.

Hal demikian yang saat ini diduga tengah terjadi di Lanzhou.

Menurut Komisi Kesehatan Lanzhou, kebocoran di pabrik farmasi biologis Zhongmu terjadi antara akhir Juli hingga akhir Agustus tahun lalu.

Pabrik saat itu tengah memproduksi vaksin Brucella untuk hewan. Pabrik menggunakan disinfektan dan pembersih kedaluwarsa, yang artinya tidak semua bakteri dibasmi dalam limbah gas.

Gas limbah yang terkontaminasi kemudian membentuk aerosol yang mengandung bakteri menyebar ke udara, dan terbawa angin ke Institut Penelitian Hewan Lanzhou, tempat wabah pertama kali melanda.

Orang-orang di institut tersebut mulai melaporkan infeksi pada November, dan sejak itu meningkat dengan cepat. Menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua, pada akhir Desember 2019 setidaknya 181 orang di institut itu telah terinfeksi brucellosis.

Beberapa bulan setelah wabah, pejabat provinsi dan kota meluncurkan penyelidikan kebocoran di pabrik. Pada Januari pihak berwenang telah mencabut izin produksi vaksin untuk pabrik tersebut, dan mencabut nomor persetujuan produk untuk dua vaksin Brucellosis.

Pada Februari, pihak pabrik menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, dan mengatakan telah menghukum berat delapan orang yang dianggap bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Pabrik juga menyatakan akan bekerja sama dengan lembaga pemerintah setempat dalam upaya pembersihan, dan berkontribusi pada program ganti rugi bagi mereka yang terkena dampak.

Brucellosis telah terjadi di China pada 1980-an, meskipun sejak itu menurun dengan munculnya vaksin dan pencegahan dan pengendalian penyakit yang lebih baik. Wabah brucellosis juga terjadi di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Contohnya di Bosnia, yang menginfeksi sekitar seribu orang pada 2008, sehingga memicu pemusnahan domba dan ternak lain yang terinfeksi.

(ndn/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK