Ahli Lokal Respons Cara China Redakan Corona Tanpa Vaksin

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 06:48 WIB
Ahli beberkan cara China bisa redakan Corona tanpa vaksin. Ilustrasi. (Foto: AP/Andy Wong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli biologi molekuler dan pandemi mengatakan China bisa meredakan pandemi Covid-19 karena secara ketat melakukan 3T (testing, tracing, dan treatment) serta 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan).

Jurus 3T dan 3M harus diketatkan karena banyak pasien Covid-19 sama sekali tak menimbulkan gejala sehingga sulit melakukan isolasi terhadap pasien itu. 

"China terapkan 3T dan 3M secara ketat, karena China paham sains biologi dari Covid-19 ini. Kontak dan telusuri itu wajib karena kita tidak bisa berpatokan pada gejala," kata Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (15/9).


Ahmad mengatakan dari sisi testing, Indonesia sudah mulai bagus. Akan tetapi, ia mengatakan Indonesia perlu meningkatkan tracing atau penelusuran kontak.

Ahmad menyarankan 30 pelacakan kontak untuk setiap 1 pasien Covid-19. New York, Amerika Serikat telah memberlakukan 30 penelusuran kontak dari satu kasus Covid-19.

"New York kini punya standar 1 kasus akan dicari 30 kontak eratnya," kata Ahmad.

Bentuk keseriusan penelusuran kontak telah dilakukan Vietnam. Kala itu, pemerintah langsung melakukan penelusuran kontak ke 25 orang setelah melaporkan satu kasus Covid-19 yang baru pulang dari Wuhan, China.

Pelacakan kontak dilakukan untuk mengetahui apakah ada orang lain yang terjangkit setelah melakukan kontak dengan orang yang telah terjangkit. Setelah itu perlu dilakukan treatment bagi para orang yang terjangkit.

"Maka perlu keseriusan untuk kenali individu yang terinfeksi dan diikuti dengan tracing. Artinya setiap 1 positif, minimal 30 penelusuran kontak," kata Ahmad.

Dihubungi terpisah, Ahli Pandemi & Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengingatkan China belum lulus terhadap pandemi Covid-19. Selama masih ada negara yang mengalami pandemi Covid-19, maka tidak ada satu pun negara yang aman dari pandemi.

Kendati demikian, Dicky mengakui China berhasil menekan dan mengendalikan penularan karena China menerapkan respons cepat dan tepat. Respons cepat dan tepat ini adalah dengan melakukan 3T, protokol kesehatan, hingga lockdown.

"Saat jumlah kasus Wuhan meledak, provinsi lainnya itu langsung menutup perbatasan. Kalau Beijing sempat lockdown, provinsi-provinsi  lain yang belum dapat kasus dia langsung melakukan berbagai langkah cepat," ujar Dicky.

Salah satu contoh langkah cepat adalah Nanjing yang langsung melatih 10 ribu petugas atau ahli epidemiolog untuk melakukan tracing hanya dalam waktu 2 minggu setelah kasus Wuhan meledak.

Dicky menyebutkan kuantitas pelatihan di Nanjing tidak bisa dibandingkan di Indonesia. Bahkan Dicky menyebut jumlah Epidemiolog di Indonesia tak mampu menyaingi Nanjing.

"Bayangkan dibandingkan kita, kita aja jangankan untuk satu provinsi, untuk nasional saja masih seribu. Ini di (satu kota) Nanjing saja 10 ribu. Jadi China itu kunci keberhasilannya adalah respons awal yang cepat dan tepat, kemudian dia juga punya SDM yang lebih dari cukup," tutur Dicky.

Dicky juga menjelaskan respons awal yang sudah cepat dan tetap itu tetap konsisten dijalankan. Kemudian ia juga mengatakan masyarakat China sudah mengerti dengan strategi pemerintah karena telah belajar dari pandemi-pandemi sebelumnya.

"Jadi masyarakat sudah yakin dan terbiasa dengan strategi pemerintah menghadapi pandemi.  Jadi sistem surveilans mereka salah satu yang terbaik di dunia. Sebab masyarakat telah belajar saat H1N1, SARS dan beberapa wabah lainnya," ujar Dicky.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]