Fakta di Balik Pengungkapan Pajak Trump

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 11:55 WIB
Trump menyebut dirinya sebagai miliarder. Sementara New York Times melaporkan dia bisa mengklaim itu karena andil tidak membayar pajak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (AP/Alex Brandon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tidak membayar pajak penghasilan selama 10 tahun. Hal itu terungkap dalam sebuah laporan investigasi yang dimuat oleh New York Times. Ada beberapa fakta terungkap dalam laporan tersebut.

Trump sendiri menyebut dirinya sebagai miliarder. Sementara New York Times melaporkan dia bisa mengklaim itu karena andil tidak membayar pajak.

Menurut New York Times, Trump hanya membayar 750 dolar atau sekitar Rp11 juta pajak penghasilan federal tahun 2016 dan 2017. Di luar itu, tidak ada sama sekali yang dibayarkan dalam 10 tahun dari 15 tahun pajak.


Berikut fakta-fakta seputar pajak Trump seperti dikutip dari AFP.

Cara Trump Hasilkan Uang

Trump selalu membual uangnya berasal dari bisnis real estate, namun laporan Times memberikan gambaran yang mengejutkan.

Antara 2000 dan 2018, ia memperoleh 230 juta dolar atau lebih dari Rp3 miliar setelah melisensikan namanya pada hotel-hotel di Azerbaijan dan Turki.

Nama "Trump" sebagai brand juga dilisensikan ke beberapa produk mulai dari kue hingga kasur.

Penghasilan besar Trump menurut Times adalah acara reality show "The Apprentice". Trump kata Times menghasilkan 197,3 juta dolar atau Rp2,8 miliar dari acara tersebut.

Sementara investasi Trump dalam proyek real estate, terutama dua gedung perkantoran yang dikelola oleh Vornado Realty Trust, hanya membuatnya mendapat 178,7 juta dolar atau Rp2,6 miliar.

Trump juga dilaporkan memiliki arena skating di Central Park New York dan resor Mar-a-Lago di Florida.

Properti Trump di New York yang bernama Trump Tower dan Trump World Tower, keduanya terbukti menguntungkan. Lalu ada lapangan golf bermerek Trump di Skotlandia, Indonesia, Florida, dan tempat lain.

Semuanya itu berubah memberi kerugian besar baginya, hingga mencapai 315 juta dolar atau Rp4,6 miliar.

Kekayaan dan utang Trump

Majalah Fortune memperkirakan kekayaan Trump sebesar 2,5 miliar dolar atau sekitar Rp37 triliun pada September 2020.

Tapi, majalah tersebut mengatakan pandemi virus corona telah membuat Trump rugi 600 juta dolar tahun ini, karena nilai ruang bangunan dan jumlah pengunjung ke hotel Trump turun drastis.

Aset terbesar Trump adalah namanya sendiri. Dia handal mempopulerkan namanya menjadi sebuah produk yang terkenal.

Selama kampanye pertamanya untuk jabatan pada tahun 2016, Trump menyebut dirinya sebagai "raja utang" dan laporan Times menunjukkan betapa beratnya biaya yang harus dipikul Trump untuk mendapat kursi nomor satu di Negeri Paman Sam.

Trump secara pribadi memiliki tanggungan atas pinjaman dan utang lainnya sebesar 421 juta dolar atau sekitar Rp6,2 miliar yang sebagian besar jatuh tempo dalam empat tahun ke depan.

The Times melaporkan dia belum membayar hipotek (kredit yang diberikan atas dasar jaminan berupa benda tidak bergerak) sebesar 100 juta dolar untuk ruang komersial di Trump Tower, yang akan dilunasi pada 2022.

Bisnis utama Trump disebut telah kehilangan sekitar 100 juta dolar atau sekitar Rp1,4 miliar dalam dua tahun sebelum 2015.

Trump juga telah kehilangan kesepakatan sponsor yang menguntungkan karena pernyataan rasisnya di masa kampanye pemilu 2016.

Cara Trump Hindari Pajak

Laporan Times memberikan banyak contoh Trump melakukan penghapusan untuk biaya bisnis dan mengambil keuntungan dari insentif pajak federal. Beberapa dia lakukan setelah krisis keuangan global tahun 2008-2010.

Dia memanfaatkan kerugian besar pada propertinya untuk menghindari pembayaran pajak atas pendapatan dalam satu dekade terakhir.

Undang-Undang pajak di AS diketahui memungkinkan pemilik bisnis untuk menanggung kerugian atas bisnisnya dan itu akan mengurangi pajak yang dibayarkan pada tahun-tahun mendatang.

Undang-undang tersebut juga mengizinkan pengembang real estate seperti Trump menggunakan kerugian untuk mengimbangi keuntungan dalam aktivitas lain.

Apakah Semua ini Ilegal?

Elemen kunci akuntansi Trump tampaknya sesuai dengan hukum AS, tetapi laporan Times menimbulkan pertanyaan tentang praktik tertentu.

Termasuk pembayaran Rp11 juta dari Organisasi Trump kepada perusahaan konsultan yang dimiliki bersama oleh putrinya Ivanka Trump.

Dalam kasus lain, alih-alih seharusnya diperuntukkan sebagai tempat pribadi, perkebunan Seven Springs di negara bagian New York diklasifikan Trump sebagai "properti investasi". Hal itu memberi penghapusan pajak pada Trump sebesar 2,2 juta dolar.

Untuk memenuhi syarat penghapusan pajak ini, usaha tersebut harus menghasilkan pendapatan atau dikelola dengan cara yang tepat, namun anggota keluarga Trump malah berulang kali menggambarkan tempat tersebut sebagai kompleks keluarga.

(ndn/dea)

[Gambas:Video CNN]