Iran Bantah Tuduhan Kirim Senjata ke Armenia

Middle East Monitor, CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 18:00 WIB
Iran membantah tuduhan bahwa pihaknya mengirimkan senjata dan peralatan militer menggunakan truk ke Armenia yang tengah terlibat konflik dengan Azerbaijan. Perang antara Armenia dan Azerbaijan sejak Minggu (27/9) hingga kini masih terjadi. (Foto: AP/)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran membantah tuduhan bahwa pihaknya mengirimkan senjata dan peralatan militer ke Armenia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengatakan truk yang diduga membawa senjata dari Iran ke Armenia sebenarnya mengangkut produk komersial.
 
Melansir Middle East Monitor, Selasa (29/9), menanggapi pertanyaan jurnalis, Saeed menjelaskan bahwa pejabat Iran selalu memeriksa pengiriman yang melintasi perbatasan dengan cermat.
 
Dia bersikeras bahwa pihak berwenang tidak akan mengizinkan senjata dan amunisi melewati negara itu. Dia pun memastikan bahwa barang-barang non-militer sedang diangkut dari Iran ke negara tetangga seperti biasa.

Bentrokan antara Armenia dan Azerbaijan kembali pecah pada MInggu (27/9) setlah pasukan Armenia menembaki lingkungan sipil di wilayah Azerbaijan timur.


Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan serangan tersebut menimbulkan korban sipil. Selain itu, juga menimbulkan kerusakan infrastruktur sipil yang cukup parah di sejumlah desa yang mengalami bombardir serangan hebat.

Hingga saat ini kedua pihak menolak usulan pembicaraan damai yang diserukan oleh berbagai negara di dunia. Sejak 1992, Armenia menduduki sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan, termasuk wilayah Nagorno-Karabakh.

Presiden Azerbaijan Ilkham Aliyev mengatakan kepada saluran TV Rusia, Rossia 1 bahwa negaranya telah berkomitmen untuk merundingkan resolusi tetapi Armenia menghalangi proses tersebut.

"Perdana menteri Armenia secara terbuka menyatakan bahwa Karabakh adalah (bagian dari) Armenia, titik. Dalam hal ini, proses negosiasi seperti apa yang dapat kita bicarakan," kata Aliev dilansir dari Associated Press.

Sementara itu, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan mengatakan sangat sulit untuk berbicara tentang negosiasi ketika operasi militer sedang berlangsung di wilayah tersebut.

(ans/evn)

[Gambas:Video CNN]