KILAS INTERNASIONAL

Iran soal Sanksi AS hingga Pembuat Novichok Minta Maaf

AFP TV, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 06:26 WIB
Serangkaian peristiwa terjadi pada Senin (22/9) mulai dari respons Iran soal sanksi senjata AS hingga ilmuawn pembuat racun Novichok minta maaf. Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: Kena Betancur / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah peristiwa terjadi pada Selasa (22/9) dirangkum dalam kilas internasional. Mulai dari sanksi senjata AS terhadap Iran hingga ilmuwan pembuat racun Novichok meminta maaf ke Alexei Navalny.

Upaya Sanksi Kembali Gagal, Iran Sebut AS Kini Terkucil

Pemerintah Iran menyatakan musuh bebuyutan mereka, Amerika Serikat, kini terkucil setelah negara-negara besar menolak pernyataan sepihak tentang pemberlakuan kembali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melansir AFP, Senin (21/9), Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan kampanye yang dilakukan AS untuk menekan Teheran telah menjadi bumerang.


"Kami dapat mengatakan bahwa 'tekanan maksimum' Amerika terhadap Iran, dalam aspek politik dan hukumnya, telah berubah menjadi isolasi maksimum (bagi) Amerika," kata Rouhani dalam pertemuan kabinet yang disiarkan di televisi.

AS mengklaim sanksi terhadap Iran kembali diberlakukan di bawah mekanisme "snapback" dalam perjanjian nuklir 2015, meskipun mereka telah menarik diri dari kesepakatan itu. AS juga mengancam akan "memberikan konsekuensi" kepada negara-negara yang tidak mematuhinya.

AS Berlakukan Kembali Sanksi Senjata Terhadap Iran

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan bahwa Amerika Serikat telah memberlakukan kembali sanksi senjata terhadap Iran.

Pompeo mengatakan langkah ini merupakan tindakan terbaru dalam kampanye "tekanan maksimum" terhadap Teheran. Tindakan tersebut terjadi setelah pemerintah AS gagal memperpanjang embargo senjata konvensional yang akan berakhir bulan depan di bawah kesepakatan nuklir Iran.

"Amerika Serikat mengharapkan semua Negara Anggota PBB sepenuhnya mematuhi kewajiban mereka untuk menerapkan langkah-langkah ini. Selain embargo senjata, (sanksi) ini termasuk larangan Iran untuk terlibat dalam kegiatan pengayaan dan pemrosesan ulang, larangan pengujian dan pengembangan rudal balistik oleh Iran, dan sanksi atas transfer teknologi terkait nuklir dan rudal ke Iran," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan.

"Jika Negara Anggota PBB gagal memenuhi kewajiban mereka untuk menerapkan sanksi ini, Amerika Serikat siap menggunakan otoritas domestik kami untuk memberlakukan konsekuensi atas kegagalan tersebut dan memastikan bahwa Iran tidak menuai keuntungan dari aktivitas yang dilarang oleh PBB," tambahnya.

Ilmuwan Pembuat Racun Novichok Minta Maaf ke Navalny

Seorang ilmuwan yang ikut mengembangkan racun saraf Novichok, Will Mirzyanov, menyampaikan permintaan maaf kepada tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, setelah sempat koma karena diduga diracun dengan zat tersebut.

Will merupakan ilmuwan pertama yang mengungkap perkembangan Novichok.

Melansir AFP, Senin (21/9), dalam wawancara dengan stasiun televisi Rain of Russia pada Sabtu (19/9) malam waktu setempat, Wil mengatakan bahwa dia ingin meminta maaf kepada Navalny.

Sebab, pemerintah Jerman menyatakan lelaki berusia 44 tahun itu menunjukkan bukti telah keracunan Novichok.

"Saya terlibat dalam pekerjaan kriminal ini karena perkembangan zat ini, saya meminta maaf kepada Navalny," ujar Will yang menetap di Amerika Serikat sejak 1995.

(evn/evn)

[Gambas:Video CNN]