Riwayat Penyerang Prancis, Putus Sekolah, Pecandu Lalu Hijrah

CNN Indonesia | Sabtu, 31/10/2020 06:36 WIB
Brahim Aouissaoui sering ditegur ibunya agar berhenti mengonsumsi narkoba dan miras, lalu mendalami ilmu agama 2 tahun sebelum pergi ke Eropa. Pelaku penyerangan di Nice, Prancis, Brahim Aouissaoui sempat mendalami ilmu agama selama dua tahun (AFP/VALERY HACHE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Brahim Aouissaoui menjadi pembicaraan dunia usai melakukan penyerangan di Gereja Notre Dame Basilica, Nice Prancis. Penyerangan itu mengakibatkan tiga warga Prancis meninggal dunia, dan satu di antaranya dipenggal.

Brahim adalah warga Tunisia yang masih berusia 21 tahun. Mengutip AFP, Brahim tinggal bersama keluarga yang sederhana di daerah Sfax.

Dia sempat berubah sikap, mengisolasi diri dari pergaulan seraya mendalami ilmu agama selama dua tahun sebelum menuju Eropa. Hal itu diungkapkan oleh kerabat Brahim.


Ibu dari Brahim menceritakan bahwa anaknya, sebelum pergi ke Eropa, selalu bersikap baik. Brahim rajin beribadah dan hanya keluar rumah untuk bekerja. Brahim sendiri putus sekolah.

"Dia selalu beribadah. Setiap hari dia bekerja lalu kembali pulang ke rumah," kata sang Ibu mengutip AFP, Jumat (30/10).

Sebelum menjadi pribadi yang baik, Ibu dari Brahim mengatakan bahwa anaknya suka mabuk-mabukan dan menggunakan narkoba. Sang ibu pun kerap menegur putranya.

"Kita miskin dan kamu membuang-buang uang?" kata sang Ibu kepada putranya di masa lalu.

"Dia akan menjawab, 'jika Tuhan menghendaki, maka saya akan dibimbing-Nya ke jalan yang benar. Itu semua urusan saya'," tutur Ibu dari Brahim menirukan jawaban putranya.

Setelah itu, Brahim mengubah dirinya dan rajin beribadah. Brahim juga berjualan bensin untuk membantu kebutuhan keluarga.

Dia membuka kios kecil hasil tabungannya selama bekerja sebagai montir sepeda motor.

"Saya menyuruhnya untuk menyewa toko kecil dengan biaya 1.100-1.200 dinar agar bisa bekerja," kata sang Ibu.

Brahim sempat berangkat ke Eropa untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, kala itu dia gagal dan tidak pernah memberi tahu keluarganya ketika kembali berangkat ke Eropa pada September lalu.

Singkat cerita, Brahim tiba di Pulau Lampedusa pada September. Pria berusia 21 tahun ini sempat dikarantina oleh otoritas setempat sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Usai dikarantina, Brahim diperintahkan untuk keluar dari wilayah Italia. Dia lalu tiba di Prancis pada awal Oktober hingga kemudian penyerangan terjadi.

Saudara kandungnya mengatakan bahwa Brahim ingin ke Prancis karena ada kesempatan bekerja memanen buah zaitun.

"Brahim mengaku ingin pergi ke Prancis karena terlalu banyak orang di Italia, sehingga lebih baik bekerja di Prancis," kata saudara kandung Brahim.

Pihak keluarga mengatakan Brahim sempat menghubungi pada 28 Oktober. Dia memberitahukan bahwa dirinya sudah tiba di Prancis.

Hingga kemudian terjadi penyerangan di Nice sehari setelahnya atau pada Kamis, 29 Oktober. Tiga orang meregang nyawa. Satu di antaranya dipenggal oleh Brahim yang membawa pisau saat melakukan aksi penyerangan.

(AFP/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK