Mesir, Sudan, dan Etiopia Kembali Berunding Soal Sungai Nil

AFP | CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2020 05:22 WIB
Mesir, Sudan, dan Ethiopia kembali melakukan perundingan putaran akhir untuk mencapai kesepakatan soal rencana pembangunan bendungan sungai Nil. Pertemuan sungai Nil Biru dan Putih di kota kembar Khartoum, ibukota Sudan, dan Omdurman (AFP/ASHRAF SHAZLY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudan, Mesir, dan Ethiopia pada Minggu kembali lakukan pembicaraan putaran terakhir terkait pembangunan bendungan sungai Nil Biru yang kontroversial di ibukota Etiopia Addis Ababa.

Sungai Nil biru mengalir di dataran tinggi Ethiopia dan bertemu dengan Nil Putih yang mengalir dari Afrika Timur di ibu kota Sudan, Khartoum. Pertemuan keduanya lantas membentuk Sungai Nil, yang dianggap sebagai sungai terpanjang di dunia.

Pasalnya, Etiopia ingin membangun bendungan di perairan sungai yang penting bagi dua negara yang ada di hilir sungai itu, Mesir dan Sudan.

Sebelumnya sudah dilakukan negosiasi selama seminggu melalui konferensi video. Pertemuan dilakukan oleh menteri perairan dari tiga negara, serta perwakilan dari Uni Afrika, Uni Eropa dan Bank Dunia.

Pembicaraan tiga arah sebelumnya telah gagal menghasilkan kesepakatan tentang pengisian dan pengoperasian waduk besar Bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) setinggi 145 meter (475 kaki).

Mesir menganggap pembangunan bendungan itu sebagai ancaman bagi negaranya. Sebab, sekitar 97 persen dari irigasi dan air minumnya bergantung pada Sungai Nil.

Sudan berharap bendungan itu akan membantu mengatur banjir, tetapi juga memperingatkan bahwa jutaan nyawa akan berada dalam "risiko besar" jika Ethiopia secara sepihak mengisi bendungan tersebut.

Sementara Ethiopia memandang proyek itu penting untuk elektrifikasi dan pengembangannya, dan bersikeras bahwa aliran air di hilir tidak akan terpengaruh.

"Ketiga pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan masalah itu melalui tim beranggotakan enam orang termasuk dua perwakilan dari masing-masing negara," kata kementerian poerairan Sudan dalam sebuah pernyataan.

Tim tersebut, katanya, akan meletakkan "kerangka acuan" pada peran para ahli untuk memfasilitasi pembicaraan, dan akan menyerahkan laporan mereka kepada para menteri air dari tiga negara pada Rabu.

Pada Juli, Addis Ababa mengumumkan telah mencapai target tahun pertama untuk mengisi waduk mega-bendungan, yang dapat menampung 74 miliar meter kubik (2.600 miliar kaki kubik) air.

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menyarankan Mesir untuk menjegal rencana pembangunan bendungan. Pernyataan AS ini dianggap Ethiopia sebagai hasutan "perang".

Mesir dan Sudan telah lama menyerukan solusi politik atas sengketa tersebut. Mereka menyuarakan penolakan terhadap tindakan sepihak oleh Ethiopia itu.

(eks/eks)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER