AS Izinkan Militer Lukai Mamalia Laut saat Latihan Maritim

CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2020 01:45 WIB
Badan federal AS National Marine Fisheries Service mengizinkan Angkatan Laut melukai mamalia laut saat menggelar latihan dan kegiatan lain di lepas pantai. Ilustrasi militer Amerika Serikat. (Andrew Craft/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan federal Amerika Serikat National Marine Fisheries Service (NMFS) mengizinkan Angkatan Laut mengganggu, membahayakan, bahkan dalam beberapa kasus membunuh mamalia laut saat menggelar latihan dan kegiatan lainnya di lepas pantai.

Izin itu tertuang dalam aturan mengenai hak angkatan laut yang kembali diperbarui NMFS untuk tujuh tahun ke depan. Izin itu berlaku dari garis pantai Pasifik, California sampai Alaska.

Menurut NMFS, kegiatan pelatihan Angkatan Laut AS memenuhi syarat sebagai kegiatan mempersiapkan kesiagaan militer sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Mamalia Laut AS.


Selama ini, latihan maritim Angkatan Laut AS kerap menggunakan sonar dan meledakkan bom di laut seberat lebih dari 450 kilogram.

Aktivitas semacam itu dapat membunuh, mengganggu, dan melukai mamalia yang ada di laut, termasuk populasi paus pembunuh Orca yang sangat sensitif terhadap kebisingan.

NMFS akan menganggap "insiden kecelakaan" saat ada aktivitas militer AS yang mempengaruhi mamalia laut.

Insiden kecelakaan ini dapat berupa apa saja mulai dari perilaku yang mengganggu, melukai, hingga berakibat kematian hewan sekalipun.

Selain memperbarui izin tersebut, jumlah binatang yang masuk dalam aturan itu juga bertambah sampai 30 spesies mamalia laut yang memiliki populasi hingga ratusan ribu seperti paus, lumba-lumba, dan anjing laut.

NMFS mengaku telah meminta pendapat publik sebelum membuat keputusan akhir terkait aturan ini. Beberapa organisasi dan warga menuntut lebih banyak tindakan mitigasi agar perusakan hingga kematian mamalia laut akibat aktivitas militer bisa diminimalisir.

Menurut Direktur Marine Mammal Protection Project at the Natural Resources Defense Council (NRDC), Michael Jasny, tidak ada perubahan berarti soal langkah mitigasi perlindungan mamalia laut dalam aturan tersebut.

Di sisi lain, populasi hewan laut di perairan AS terus berkurang. Dikutip CBC, peneliti memperkirakan hanya ada 74 paus pembunuh Orca yang tersisa.

"Ini sangat mengganggu. Lembaga itu (NMFS) tidak pernah menemukan bahwa dampaknya akan lebih besar dari yang diperkirakan. Tidak pernah ada temuan soal itu," kata Jasny.

(rds/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK