Palestina Bujuk Oman dan Qatar Tak Damai dengan Israel

CNN Indonesia | Jumat, 18/12/2020 08:30 WIB
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, membujuk Qatar dan Oman untuk tidak membuka hubungan dengan Israel. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas. (AFP Photo/Abbas Momani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, membujuk pemerintah Qatar dan Oman untuk tidak membuat kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel.

Dilansir The Jewish Voice yang mengutip situs berita Elaph, Kamis (17/12), Abbas melakukan hal itu untuk menghentikan gelombang negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Abbas lantas terbang ke Doha untuk bertemu dengan pemimpin Qatar, Syekh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Thani. Dia juga mengutus pejabat pemerintah Palestina, Jibril Rajoub, ke Oman dan bertemu Sultan Haitham bin Tariq untuk membujuk negara itu tidak menjalin hubungan dengan Israel, seperti dikutip dari Israel Hayom.


"Mereka membicarakan tentang niat Qatar dan Oman untuk melakukan kesepakatan damai dengan Israel seperti Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko. Mereka berharap Qatar tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel kecuali ada perkembangan terkait Palestina," kata sumber yang merupakan pejabat Qatar yang mengikuti pertemuan itu.

Syekh al-Thani lantas mencuit melalui Twitter dan menyatakan akan tetap mendukung Palestina.

"Qatar tetap berpendirian untuk mendukung Palestina dan segenap rakyatnya, untuk meraih perdamaian sesuai dengan yang disyaratkan oleh negara-negara Arab, yakni solusi dua negara dan pengakuan secara internasional," cuit Syekh al-Thani.

Menurut sumber di Palestina, Abbas kini mengubah strategi politik luar negeri mereka. Ketimbang terus-terusan mengecam proses normalisasi, Abbas kini rajin melakukan pembicaraan langsung dengan sejumlah pemimpin negara-negara Arab untuk meyakinkan mereka supaya membatalkan perjanjian atau niat itu sebelum Presiden AS terpilih, Joe Biden, dilantik pada 20 Januari 2021 mendatang.

Qatar dan Israel sudah bertahun-tahun memiliki hubungan tidak resmi. Mereka bertindak menjadi penengah dalam blokade darat, laut dan udara terhadap Jalur Gaza dengan cara mengirimkan bantuan uang sebesar US$10 juta setiap bulan bagi penduduk setempat.

Qatar juga mencegah upaya perlawanan terhadap kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza.

Akan tetapi, hubungan Qatar dan negara-negara di kawasan Teluk tidak akur. Arab Saudi dan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, yang dituduh membantu membiayai organisasi Ikhwanul Muslimin, yang menjadi organisasi induk dari Hamas.

Penyebabnya adalah sejumlah negara Arab menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris. Selain itu, Qatar juga dituduh membina hubungan erat dengan Iran, yang menjadi musuh utama Arab Saudi.

Sedangkan Oman disebut-sebut menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang menjadi target untuk melakukan normalisasi hubungan. Namun, beberapa waktu lalu seorang sumber menyatakan pemerintah Oman memang berniat membuka hubungan dengan Israel.

Akan tetapi, Pemimpin Oman, Sultan Qaboos, dilaporkan khawatir akan dimusuhi Iran. Oman adalah satu-satunya negara Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Iran.

Untuk memuluskan agenda politik luar negeri di Timur Tengah, Penasihat Presiden Amerika Serikat, Jared Kushner, terbang ke Arab Saudi dan Qatar untuk membantu mencari jalan keluar pertikaian itu. Harapannya adalah jika mereka mendapatkan solusi, Saudi dan Qatar bakal membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

(Israel Hayom/The Jewish Voice/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK