Jack Ma dan 4 Konglomerat yang Dibungkam China

CNN Indonesia | Selasa, 05/01/2021 12:02 WIB
Menghilangnya miliarder asal China, Jack Ma jadi pembicaraan publik. Setidaknya konglomerat China tak luput dari cengkeraman pembungkaman Beijing. Pendiri e-commerce Alibaba Jack Ma. (AFP/HOANG DINH NAM)

Ren Zhiqiang

Pada April 2020, seorang taipan China lainnya, Ren Zhiqiang, menghadapi penyelidikan polisi setelah ia mengkritik cara Presiden Xi dalam menangani pandemi Covid-19. Ren menghadapi tuduhan melakukan "pelanggaran serius" terhadap disiplin dan hukum.

Mengutip AFP,pria 69 tahun itu sempat menghilang dari mata publik pada Maret lalu setelah membuat tulisan yang mengkritik respons Xi menangani wabah virus corona di China.


Ren tidak secara gamblang menyebut nama Xi dalam tulisannya. Ia justru menyebut pemimpin tertinggi sebagai 'badut' yang haus kekuasaan.
"Saya tidak melihat seorang kaisar berdiri memamerkan 'pakaian barunya', tetapi seorang badut yang menanggalkan pakaiannya dan berkeras terus menjadi seorang kaisar," tulis Ren dalam tulisannya.

Dalam artikel tersebut, ia juga mengecam tindak keras partai terhadap kebebasan pers dan intoleransi perbedaan pendapat.

"Tanpa media yang mewakili kepentingan rakyat dengan mempublikasikan fakta-dakta aktual, nyawa rakyat terancam oleh virus dan penyakit utama lainnya," tulis Ren yang mengkritik pembatasan pemerintah terhadap kebebasan pers.

Kemudian pada akhir September, Ren divonis hukuman penjara selama 18 tahun atas kritik tersebut. Tapi dia menghadapi vonis pengadilan pada 22 Agustus atas tuduhan korupsi dan penggelapan dana publik.

Vonis itu menuai protes dari para aktivis, di mana mereka menuduh Partai Komunis dan Xi menggunakan tuduhan korupsi untuk membungkam pihak-pihak yang berbeda pendapat.

Pengusaha real estate yang telah pensiun dalam beberapa tahun terakhir itu secara aktif menjadi kritikus terhadap sikap pemerintah China dalam merespons berbagai isu.

Pada 2016 lalu, Ren juga bermasalah dengan pengawas disiplin partai karena membuat petisi daring terkait aturan agar media China harus tetap setia pada partai. Akibat aksinya, Ren menjalani masa percobaan penahanan selama satu tahun dan akun Weibo miliknya ditutup oleh pemerintah.

Xiao Jianhua

Pendiri Tomorrow Group yang berbasis di Beijing, Xiao Jianhua diculik pada Januari 2017 lalu saat menginap di hotel Four Seasons, Hong Kong. Dia menghilang di tahanan China, sementara Beijing menyita sebagian aset dari perusahaannya.

Sejumlah media melaporkan Xiao dibawa pergi dengan menggunakan kursi roda oleh agen keamanan China berpakaian preman, kepalanya ditutupi dengan seprai, dan dibawa melintasi perbatasan ke China.

Menghilangnya miliarder asal China itu adalah bagian dari operasi anti-korupsi China yang diyakini sejumlah pengkritik kerap digunakan untuk mengeliminasi musuh politik Presiden Xi.

Xiao dikenal sebagai pemimpin mahasiswa ketika masih kuliah.

Terkait penangkapannya, regulator pasar saham China menuduh Xiao dan taipan lainnya menarik calon investor dari pasar saham China.

Pada 2014 dia membantah pindah ke Hong Kong untuk menghindari penyelidikan kasus korupsi yang dilancarkan oleh pemerintah China.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK