Iran Tolak Impor Vaksin Corona AS dan Inggris

CNN Indonesia | Sabtu, 09/01/2021 03:20 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, melarang impor vaksin corona buatan Amerika Serikat dan Inggris. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. (AFP/BEHROUZ MEHRI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, melarang negaranya mengimpor vaksin virus corona (Covid-19) buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat dan Inggris.

"Dilarang mengimpor vaksin buatan Amerika Serikat dan Inggris," cuit Khamenei melalui akun Twitter, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/1).

"Sepertinya mereka secara tidak langsung memang mau mencemari negara lain," lanjut Khamenei.


Khamenei lantas melanjutkan, dari pengalaman negaranya terkait skandal pasokan darah yang mengandung virus HIV dari Prancis, dia juga menyatakan tidak yakin dengan vaksin dari negara itu.

Peristiwa itu terjadi pada 1980-an. Saat itu ada pasokan darah yang tercemar virus HIV beredar di Prancis dan juga dikirim ke negara lain. Padahal saat ini pemerintah Prancis sudah mengetahui hal itu.

Akibatnya, ratusan orang di Iran yang menerima transfusi darah dari Prancis tertular virus HIV.

Mantan Perdana Menteri Prancis, Laurent Fabius, lantas dijerat dan menjadi tersangka pembunuhan tidak disengaja. Namun, dia diampuni pada 1999.

Sementara menteri kesehatan Prancis saat itu sempat divonis bersalah, tetapi tidak pernah menjalani hukuman.

Pada Desember 2020, Iran menggelar uji klinis vaksin buatan dalam negeri.

Iran menyatakan kesulitan membeli vaksin corona akibat sanksi ekonomi yang diberikan Amerika Serikat. Walau sanksi itu tidak berlaku bagi obat-obatan dan makanan, tetapi sejumlah bank dunia menolak membantu pengiriman uang dari Iran untuk membeli vaksin karena ngeri dijatuhi sanksi oleh AS.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, para Desember lalu menyatakan AS meminta supaya pembayaran pembelian vaksin corona dilakukan melalui bank Negeri Paman Sam. Namun, dia khawatir duit itu bakal disita.

Saat ini Iran mencatat lebih dari 1.2 juta kasus Covid-19, dengan 56 ribu pasien meninggal.

Mereka menjadi negara di Timur Tengah yang paling parah terdampak Covid-19.

(AFP/ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK