Studi: 5 Juta Kematian Global Akibat Covid hingga Maret 2021

CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 20:19 WIB
Studi yang dilakukan oleh tim ahli China memperkirakan angka kematian global akibat Covid-19 menyentuh 5 juta jiwa pada Maret 2021. Peneliti China memperkirakan angka kematian global mencapai 5 juta jiwa pada Maret 2021. (Foto: AP/Oded Balilty)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah tim ahli China memperingatkan bahwa dampak global pandemi virus corona tahun ini bisa lebih buruk daripada 2020. Menurut angka yang dihitung oleh tim dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China, jumlah kematian dapat meningkat menjadi 5 juta jiwa pada awal Maret.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan 8 Januari di jurnal yang ditinjau oleh rekan sejawat bertajuk Disease Surveillance, para peneliti yang dipimpin oleh profesor Xu Jianguo dari CDC mengatakan pemerintah China dan publik harus bersiap untuk lebih banyak guncangan eksternal.

"Perkembangan pandemi sulit untuk diramalkan, tapi perkiraan numerik dengan pemodelan dapat memberikan beberapa informasi yang berguna," kata Xu.


Meski sebagian besar wilayah China telah mengendalikan Covid-19, tapi banyak negara di dunia masih menghadapi wabah yang sebagian diakibatkan oleh virus corona yang bermutasi.

Menurut perkiraan Xu, lebih dari 92 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia, tapi jumlah itu bisa meningkat menjadi 170 juta pada awal Maret, Amerika Serikat kemungkinan masih menjadi yang terparah.

Dalam kasus terburuk, jumlah kasus di AS bisa mencapai 32 juta atau sekitar 20 persen dari total dunia. India, Brasil, dan Rusia akan menyusul AS sebagai negara terparah.

Bahkan dalam skenario terbaik, termasuk jika pemerintah menerapkan langkah-langkah pencegahan efektif, studi tersebut mengatakan 300 ribu orang akan meninggal akibat Covid-19 pada awal Maret.

Xu memimpin salah satu tim ahli pertama yang dikirim oleh pemerintah China untuk menyelidiki wabah di Wuhan. Kolaborator lain dalam penelitian ini semuanya adalah ilmuwan utama di lembaga penelitian militer dan sipil terkemuka di China tentang penyakit menular.

Studi ini ditugaskan oleh Chinese Academy of Engineering, badan penasihat utama bagi para pemimpin China.

A medical worker in protective suit collects a swab from a bedridden elderly at a house during the second round of citywide nucleic acid testing following the recent coronavirus disease (COVID-19) outbreak in Shijiazhuang, Hebei province, China January 13, 2021. cnsphoto via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.China kembali menerapkan lockdown empat kota setelah terjadi lonjakan kasus corona. (Foto: REUTERS/STRINGER)

Seorang peneliti di Institut Pasteur Shanghai yang sedang menyelidiki Covid-19 tapi tidak terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan jika 5 juta orang meninggal pada Maret, itu dapat menyebabkan runtuhnya sistem perawatan kesehatan global.

"Orang meninggal secara massal ketika mereka tidak bisa mendapatkan perawatan paling dasar di rumah sakit," kata peneliti itu secara anonim seperti mengutip SCMP.

Menurut angka dari Johns Hopkins University, tingkat kematian global Covid-19 saat ini adalah2,1 persen. Jika kenaikan jumlah kematian menjadi 5 juta, maka ini akan mewakili tingkat kematian sebesar 3 persen yang setara dengan tingkat kematian di Wuhan ketika rumah sakit di sana kewalahan oleh pasien Covid-19.

Benjamin Neuman, profesor biologi dan kepala virolog GHRC di Texas A&M University mengatakan ada banyak ketidakpastian dalam mencoba memprediksi jalannya pandemi, termasuk kelelahan, politik, tradisi, sikap terhadap sains, dan penyebaran informasi palsu.

"Dalam kasus terbaik, dengan akal sehat, tindakan pencegahan yang sesuai, dan jenis vaksin yang efektif saat ini, jumlah total tidak akan pernah mencapai 3 juta kematian," ujarnya.

"Skenario kasus terburuk bisa jauh lebih buruk dari 7 juta... masa depan Covid-19 sangat (ada) di tangan kita," tambah Neuman.

Studi ini sejalan dengan pernyataan WHO yang memperingatkan jika tahun kedua pandemi kemungkinan akan lebih parah dibandingkan tahun pertama. Hal itu terjadi setidaknya dalam beberapa bulan pertama di tahun 2021.

Direktur kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan bahwa dinamika penularan virus corona dan masalah lain yang tengah terjadi di tahun 2021 tampak lebih sulit, terutama di bumi belahan utara.

Pernyataan Ryan ini merujuk pada mutasi virus corona yang diidentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan dan telah menyebar ke sejumlah negara di dunia.

"Memasuki tahun kedua pandemi bisa jadi lebih parah dan berat karena adanya dinamika penularan virus," kata Ryan dalam sebuah acara yang disiarkan melalui media sosial.

Pernyataan Ryan merujuk pada laporan 5 juta kasus baru pada pekan lalu setelah dua pekan sebelum mengalami penurunan kasus.

Menurutnya, penurunan kasus pada akhir tahun lalu menipu sehingga menimbulkan kesan bahwa pandemi sudah terkendali.

(ans/evn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK