Inggris Akan Karantina Wisatawan dari Negara Berisiko Tinggi

CNN Indonesia | Minggu, 24/01/2021 12:25 WIB
Inggris akan melakukan karantina terhadap wisatawan dari negara dengan kasus covid-19 tinggi selama 10 hari. Biaya karatina dibebankan ke wisatawan. Inggris akan mengkarantina wisatawan dari negara dengan kasus covid tinggi selama 10 hari dengan biaya dibebankan kepada turis tersebut. Ilustrasi. (AP/Matt Dunham).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Inggris akan melakukan karantina terhadap wisatawan dari negara yang memiliki tingkat kasus covid-19 tinggi. Karantina akan dilakukan di hotel selama sepuluh hari.

Seorang sumber mengatakan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson lebih memilih pendekatan yang jelas dan terukur daripada membuat semua wisatawan dari luar Inggris dikarantina.

Melansir Daily Mail, wisatawan dari Brasil dan Afrika Selatan, serta negara di sekitarnya adalah negara yang paling mendapat perhatian. Wisatawan dari seluruh negara itu akan langsung digiring ke hotel yang telah ditentukan oleh otoritas setibanya di Inggris untuk menjalani karantina selama sepuluh hari.


Johnson dilaporkan akan memimpin Komite Covid-O agar segera mengesahkan peraturan tersebut. Menariknya, wisatawan yang harus dikarantina itu harus menanggung sendiri biaya hotel tempatnya menjalani karantina.

Sementara itu, pemeriksaan langsung untuk mengkarantina pelancong dari semua negara juga akan ditingkatkan. Pemeriksaan akan dilakukan oleh polisi atau otoritas kesehatan Inggris.

Para pemimpin Uni Eropa dilaporkan sedang menyusun rencana untuk melarang penerbangan dari Inggris ke semua negara anggota. Kanselir Jerman Angela Merkel bahkan telah meminta negara anggota Uni Eropa bertindak serempak untuk mencegah gelombang baru virus.

Portugal dan Belanda telah menangguhkan penerbangan ke dan dari Inggris di tengah kekhawatiran atas varian covid baru.

Melansir Live Mint, karantina wisatawan dari luar negeri senada dengan kebijakan lockdown di Inggris yang akan dilangsungkan hingga 17 Juli 2021. Dua kebijakan itu dibuat karena jumlah kasus di Inggris semakin tidak terkendali.

Johnson mengatakan pemerintah tidak dapat mengurangi pembatasan penguncian karena kasus infeksi sangat tinggi dan vaksinasi belum menunjukkan hasil positif.

Di tengah kebijakan itu, tenaga medis di Inggris mengkritik pemerintah karena menunda pemberian dosis kedua vaksin covid-19 buatan Pfizer dan BioNTech. Pemerintah Inggris diketahui baru akan memberi dosis kedua pada 12 minggu lagi.

Hal itu dinilai bertentangan dengan anjuran. Pemerintah Inggris sedang memperluas jarak antara suntikan pertama dan kedua untuk memastikan sebanyak mungkin orang dapat diberi perlindungan dari dosis vaksin awal.

Dalam surat yang dibuat Asosiasi Medis Inggris mengatakan bahwa membuat interval 12 minggu untuk vaksin Pfizer bertentangan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia. Mereka mendesak pemerintah untuk mengurangi jeda antara dosis pertama dan kedua hingga maksimal enam minggu saja.

Pfizer dan BioNTech telah memperingatkan bahwa tidak memiliki bukti bahwa vaksin mereka akan terus melindungi jika dosis kedua diberikan lebih dari tiga minggu setelah dosis pertama.

(panji/agt)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK