Dibungkam China, Penyintas Corona Wuhan Ingin Mengadu ke WHO

CNN Indonesia | Rabu, 27/01/2021 19:05 WIB
Keluarga mendiang korban dan penyintas virus corona di Wuhan, ingin bertemu tim WHO dan menyatakan dibungkam pemerintah China. Perayaan pergantian tahun di Wuhan, China, setelah dinyatakan bebas dari virus corona. (AFP/NOEL CELIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekelompok keluarga mendiang korban dan penyintas virus corona di Wuhan, China, mendesak meminta bertemu tim penyelidik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mereka menyatakan ingin menyampaikan pendapat dan pandangan tentang penanganan virus corona di Negeri Tirai Bambu, dan upaya pembungkaman terhadap para keluarga korban.

"Saya berharap para ahli WHO tidak diperalat untuk menyebarkan kebohongan," kata salah satu penduduk China, Zhang Hai, seperti dilansir Associated Press, Rabu (27/1).


"Kami sudah berupaya tanpa lelah menelusuri kebenaran. Ini adalah kejahatan dan saya tidak mau WHO datang ke China hanya untuk menutupi kejahatan ini," ujar Zhang.

Zhang yang lahir di Wuhan kehilangan sang ayah pada 1 Februari 2020. Ayah Zhang meninggal akibat tertular virus corona, ketika berkunjung ke Wuhan.

Lelaki yang saat ini bermukim di Kota Shenzhen itu kini aktif mengumpulkan dan mengelola kelompok percakapan sejumlah keluarga korban dan penyintas virus corona. Mereka menuntut pemerintah China terbuka dalam hal penanganan pandemi virus corona.

Zhang dan sejumlah kerabat korban meninggal Covid-19 merasa kecewa karena pemerintah setempat pada awalnya sempat meremehkan gelombang wabah di Wuhan, yang akhirnya merebak menjadi pandemi. Mereka juga hendak menggugat pemerintah Kota Wuhan atas penanganan terhadap wabah virus corona.

Akan tetapi, Zhang dan keluarga korban serta para penyintas menghadapi tekanan dari pemerintah China. Mereka diminta tidak banyak bicara kepada media massa.

Selain itu, gugatan yang mereka ajukan juga kerap ditolak. Malah Zhang dan beberapa orang yang aktif menyuarakan tuntutan supaya pemerintah China terbuka terkait penanganan pandemi dijemput aparat kemudian diperiksa.

Bentuk tekanan lainnya adalah adanya ancaman kepada sejumlah anggota keluarga korban virus corona bahwa mereka akan dipecat dari pekerjaannya jika masih nekat melontarkan kritik kepada pemerintah.

Bahkan menurut Zhang, kelompok percakapan di aplikasi lokal ditutup pemerintah China bertepatan saat tim penyelidik WHO tiba di Wuhan.

"Jangan berpura-pura kami tidak ada, dan seolah kami tidak meminta pertanggungjawaban. Kalian boleh menguasai seluruh media, tetapi kami ingin semua tahu bahwa kami belum menyerah," kata Zhang.

Pemerintah China mengizinkan tim penyelidik WHO datang ke Wuhan setelah negosiasi berbulan-bulan. Sampai saat ini pun belum diketahui apakah tim itu akan diizinkan mengumpulkan bukti-bukti soal penanganan pandemi dengan mewawancarai keluarga korban dan para penyintas.

Meski Wuhan saat ini sudah dinyatakan bebas dari Covid-19, kini infeksi baru virus corona justru terjadi di wilayah lain di China.

Pemerintah China bahkan membatasi interaksi tim WHO dan hanya dibolehkan bertukar pikiran dengan para pakar kesehatan setempat.

Di sisi lain, WHO menyatakan misi penyelidikan itu bersifat ilmiah untuk mengusut asal-usul virus corona, dan bukan ingin menyalahkan siapapun.

China sempat menolak usulan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan sejumlah negara lain yang mendesak WHO untuk menggelar penyelidikan investigasi tentang asal virus corona. Trump menuduh China tidak becus menangani wabah itu hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Meski para pakar yang diutus WHO kerap memuji China di hadapan media massa, tetapi di balik itu mereka juga mengkritik pemerintah China karena tidak kekurangan informasi untuk penyelidikan itu.

Yang turut menyulitkan adalah WHO tidak mempunyai wewenang untuk menegakkan peraturan, dan mereka sangat bergantung kepada kerja sama dan keterbukaan negara anggotanya, termasuk China.

(Associated Press / ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK