Kisah Ligon, Rasakan Indahnya Kebebasan usai 68 Tahun Dibui

ayp, CNN Indonesia | Kamis, 18/02/2021 23:37 WIB
Joe Ligon, WN AS yang dipenjara saat berusia 15 tahun sejak 1953 karena kasus pembunuhan, bebas setelah dipenjara selama 68 tahun usai menempuh banyak banding. Ilustrasi pemenjaraan. (Foto: iStockphoto/AZemdega)
Jakarta, CNN Indonesia --

Joe Ligon, yang diyakini sebagai warga tertua dan terlama yang menjalani masa hukuman penjara di Amerika Serikat, yakni hampir tujuh dekade, dibebaskan dari penjara Pennsylvania.

Ligon dipenjara pada Februari 1953, saat usianya 15 tahun. Ia diberi hukuman seumur hidup setelah mengaku bersalah atas tuduhan dan perampokan dengan empat remaja laki-laki lainnya di Philadelphia.

Kejahatan itu menyebabkan enam orang terluka dan dua orang --yang diidentifikasi penyelidik Philadelphia sebagai Charles Pitts dan Jakson Hamm-- tewas.


"Saya terjebak, ketika sedang ada di jalanan," ujar Ligon kepada CNN setelah dibebaskan pekan lalu.

Saat itu sidang memutuskan Ligon bersalah atas dua tuduhan pembunuhan tingkat pertama. Ia juga mengaku menikam setidaknya satu dari delapan orang yang terluka hari itu.

Pengacara Ligon, Bradley Bridge, mengatakan kepada CNN bahwa kliennya menyatakan tak pernah membunuh siapapun.

"Anak yang melakukan kejahatan itu, pada tahun 1953 sudah tidak ada lagi. Orang yang keluar dari penjara pada tahun 2021 kini berusia 83 tahun, telah tumbuh, berubah dan tak lagi menjadi ancaman," kata Bridge.

"Dia sudah banyak mengganti rugi atas kerusakan yang dia lakukan kepada masyarakat. Dan sekarang, sudah sepantasnya ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam kebebasan," tambahnya.

Ligon pun menyadari dirinya bukan lagi remaja yang dulu saat awal kasus itu terjadi.

"Aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan sekedar orang dewasa, aku juga orang tua dan bertambah tua setiap saat," tutur dia.

Jalan panjang untuk mendapatkan kebebasan telah dilalui Ligon. Pada tahun 1970-an, Ligon dan teman-temannya diberi opsi grasi dari gubernur Pennsylvania. Dua di antara temannya menerima tawaran itu, namun Ligon menolaknya.

Tak hanya itu, dia juga menolak pembebasan bersyarat lainnya pada tahun 2017, setelah Mahkamah Agung AS menganggapnya memenuhi syarat.

Setahun sebelumnya, pada 2016, pengadilan memutus bahwa vonis seumur hidup bagi anak di bawah umur tanpa opsi pembebasan bersyarat dianggap melanggar hukum. 

Hal ini berangkat dari kasus Miller v Alabama pada 2012. Putusan pengadilan ini pun dinyatakan berlaku surut.

Kasus Ligon pun terdampak. Ia, yang dihukum seumur hidup saat masih remaja, dinyatakan berhak atas pembebasan bersyarat, sebab dia telah dipenjara selama lebih dari 60 tahun.

Tapi Ligon menolak tawaran itu lagi, ia menyatakan pembebasan bersyarat tidak akan memberinya kebebasan yang sudah diinginkan setelah puluhan tahun mendekam di penjara.

"Dewan pembebasan bersyarat negara bagian mungkin akan membebaskannya tetapi dengan syarat dia akan berada di bawah pengawasan mereka selama sisa hidupnya, Dia memilih untuk tidak mencari pembebasan bersyarat di bawah persyaratan itu," jelas Bridge.

Bridge, yang telah mewakili Ligon selama 15 tahun, pada akhirnya berpendapat bahwa hukuman seumur hidup atas kejahatan yang dilakukan Ligon, yang saat itu sebagai remaja, adalah inkonstitusional.

Setelah gagal di pengadilan banding menengah di Pennsylvania, Bridge berhasil membawa kasus tersebut ke pengadilan federal dan memenangkannya pada November 2020.

Pada akhirnya, Ligon bebas berdasarkan pada tahun 2021. Ia keluar dari penjara, tugasnya untuk kembali melebur dengan masyarakat pun dimulai.

Infografis Penembakan Anak di AsInfografis Penembakan Anak di AA. (Foto: Rengga)

Dunia Baru

John Pace, mantan narapidana dan koordinator masuk kembali saat ini untuk Youth Sentencing & Reentry Project (YSRP) yang berbasis di Philadelphia, mengatakan dia telah bekerja dengan Ligon untuk membantunya bangkit.

Pace baru berusia 17 tahun ketika dia sendiri dipenjara karena menjambret dan menyerang seorang laki-laki. Dia menghabiskan 31 tahun berikutnya di penjara. Setelah dibebaskan, Pace mengatakan dia merasakan semacam penyakit, setelah tiba-tiba dihadapkan pada realitas barunya.

"Anda berada di lingkungan penjara yang tak banyak punya semangat. Anda tidak diperbolehkan berhubungan dengan orang. Interaksimu sangat terbatas. Jadi, tidak banyak stimulus," kata Pace.

"Jadi sekarang Anda keluar dari penjara, dan bayangkan semua ini, Anda dapat melakukan apa yang diinginkan sekarang. Dan apa yang akan Anda lakukan dengan itu?" cetusnya.

Bridge, Pace, dan beberapa orang lainnya telah mendampingi Ligon demi mengatasi shock saat memasuki dunia baru. Termasuk, berupaya menemukan rumah.

"Akan selalu ada orang yang berpikir Joe harus dipenjara selama sisa hidupnya," kata Pace.

"Joe memiliki kendali atas dirinya dan menunjukkan siapa dia hari ini, dan dia berharap itu cukup untuk membantu orang lain untuk menyadari bahwa dia mencoba membantu orang lain menggunakan penilaian yang lebih baik."

Ligon pun mengatakan ingin orang lain belajar dari pengalamannya. "Saya benar-benar ingin menyenangkan orang dan membantu orang lain dengan cara mereka membantu saya," ungkap dia.

"Bertemu dengan beberapa anak muda, dengan beberapa generasi yang lebih tua, dan beberapa reporter ... untuk berbagi beberapa cerita saya," tuturnya.

Saat ditanya bagaimana rasanya setelah satu hari setengah dibebaskan, Ligon mengatakan, "Indah, indah."

(evn/evn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK