Remaja AS Aktivis Anti-rasisme Ditemukan Tewas Usai Hilang

CNN, CNN Indonesia | Selasa, 16/06/2020 20:52 WIB
Ilustrasi Pembunuhan di Papua Ilustrasi jenazah. Seorang remaja 19 tahun yang merupakan aktivis pemerhati hak warga kulit hitam asal Florida, Amerika Serikat, Oluwatoyin 'Toyin' Salau, ditemukan tewas setelah dinyatakan hilang selama sepekan. (Istockphoto/Sestovic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang remaja 19 tahun yang merupakan aktivis pemerhati hak warga kulit hitam asal Florida, Amerika Serikat, Oluwatoyin 'Toyin' Salau, ditemukan tewas setelah dinyatakan hilang selama sepekan pada Sabtu pekan lalu.

Salau ditemukan tewas bersama seorang perempuan berusia 75 tahun bernama Victoria Sims. Kepolisian masih menyelidiki kematian Toyin dan menganggap kasusnya sebagai pembunuhan.


Salau terakhir kali terlihat oleh kerabat pada 6 Juni lalu, di hari ketika ia mengakui bahwa dirinya mengalami secara seksual melalui sebuah kicauan di Twitter.


Teman Salau, Cynna Carney mengonfirmasi bahwa akun Twitter itu benar milik Salau. Corney mengaku telah berteman dengan Salau sejak sebelum keduanya masuk sekolah menengah atas (SMA).

Kicauan itu berisikan kronologi singkat tentang pelecehan yang dialami Salau. Dalam kicauan itu Salau mengatakan bahwa ia mengalami pelecehan oleh seorang pria yang menawarkan tumpangan ketika dirinya ingin mengambil barang-barang yang tertinggal di sebuah gereja.

Pelecehan terjadi ketika Salau sedikit terlelap di mobil.

Sejauh ini, Kepolisian Tallahassee telah menangkap seorang tersangka bernama Aaron Glee berusia 49 tahun.

Namun, belum jelas apakah Glee adalah pria yang sama dalam pengakuan Salau di Twitter.

CNN telah menghubungi kepolisian Tallahasse untuk mengonfirmasi hal itu namun belum mendapat jawaban.

Sementara itu, Sims merupakan seorang sukarelawan organisasi non-profit AARP. Keluarga menolak mengomentari terkait kematian Sims.

Kematian Salau terjadi ketika isu rasisme kembali mencuat di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Demonstrasi besar anti-rasisme telah berlangsung di seluruh penjuru AS sejak kurang lebih tiga minggu terakhir.

Unjuk rasa itu pecah menyusul kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam asal Minneapolis yang meninggal karena kehabisan napas setelah lehernya ditindih lutut petugas kepolisian yang tengah menangkapnya.

[Gambas:Video CNN]

Kematian Floyd menjadi puncak amarah publik terkait diskriminasi dan sikap rasisme di AS, terutama yang dilakukan penegak hukum terhadap kaum kulit hitam dan warga minoritas lainnya. (rds/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK