AS Buka Pintu Perundingan Nuklir usai Cabut Sanksi Iran

CNN Indonesia | Jumat, 19/02/2021 16:06 WIB
AS siap berunding kembali dengan Iran terkait kesepakatan pembatasan program nuklir usai pencabutan sanksi. Presiden Iran, Hassan Rouhani, saat meninjau reaktor nuklir Bushehr. (AP Photo/Iranian Presidency Office, Mohammad Berno)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat menyatakan siap berunding kembali dengan Iran terkait kesepakatan pembatasan program nuklir (JCPOA) 2015.

Mereka menyatakan hal itu selepas Presiden Joe Biden mencabut seluruh sanksi yang diterapkan di era pendahulunya, Donald Trump.

Akan tetapi, Iran sampai saat ini belum bereaksi terkait hal itu.


Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken, menyatakan bahwa pemerintahan Biden akan kembali ke kesepakatan yang dikenal Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) jika Iran mau mematuhi kesepakatan tersebut.

"Menteri Luar Negeri Blinken menegaskan kembali, jika Iran kembali mematuhi aturan dan berkomitmen dengan JCPOA, Amerika Serikat akan melakukan hal yang sama dan siap untuk terlibat dalam diskusi dengan Iran menuju tujuan itu," dalam pernyataan bersama, seperti dilansir Reuters, Jumat (19/2).

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters mereka akan menanggapi ajakan berunding pihak-pihak yang terlibat dalam kesepakatan itu, yakni Uni Eropa, Iran, Inggris, China, Prancis, Jerman dan Rusia.

"Kami siap hadir jika pertemuan seperti itu akan berlangsung," kata pejabat yang tak ingin disebutkan namanya kepada Reuters.

Inggris, Prancis, dan Jerman, yang secara kolektif dikenal sebagai kelompok E3, juga menyambut baik niat Biden untuk kembali berdiplomasi dengan Iran. Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menilai seharusnya AS memulainya terlebih dahulu.

"Alih-alih menyesatkan & membebani Iran, E3/UE harus mematuhi komitmen sendiri & menuntut diakhirinya warisan Trump tentang #TerorEkonomi melawan Iran," kata Zarif dalam sebuah cuitan melalui akun Twitter.

"Langkah perbaikan kami adalah tanggapan atas pelanggaran AS / E3. Hapus penyebabnya jika Anda takut efeknya. Kami akan mengikuti dengan aksi," katanya.

Iran mulai melanggar kesepakatan pembatasan program nuklir pada 2019 setelah mantan Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan dan menerapkan kembali sanksi ekonomi.

Sumber diplomatik Prancis menyatakan kebijakan Biden memperlihatkan diplomasi AS terhadap Iran mulai berubah Iran, tetapi masih penuh dengan rintangan.

"Amerika mengatakan mereka bersedia untuk berbicara dengan Iran" katanya dalam pertemuan bersama. Mereka mengatakan setelah melakukan pertemuan di Paris.

Iran menetapkan tenggat hingga pekan depan bagi Biden untuk membatalkan sanksi yang diberlakukan Trump. Jika tidak digubris, Iran mengancam akan kembali melanggar kesepakatan dengan tidak memberitahu program mereka, atau tidak mengizinkan inspeksi oleh pengawas dari Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA).

Negara anggota E3 dan Amerika Serikat meminta Iran untuk tidak nekat meningkatkan pengayaan uranium, dan tetap mengizinkan pengawas IAEA melakukan inspeksi.

Infografis Kesepakatan Nuklir iran(CNN Indonesia/Laudy Gracivia)

Mereka menyatakan Iran tidak boleh membuat senjata nuklir. Mereka juga mengungkapkan keprihatinan atas tindakan Iran yang mulai memproduksi uranium logam.

Pemurnian uranium ke tingkat kemurnian fisil yang tinggi merupakan salah satu tahap untuk membuat bom nuklir. Padahal Iran menyatakan program pengayaan uranium dan nuklir mereka bertujuan damai, yakni untuk pembangkit listrik.

Sampai saat ini tingkat pengayaan uranium yang dilakukan Iran mencapai 20. Persentase itu jauh di atas batas kesepakatan, yakni 3,67 persen, meskipun masih jauh dari tingkatan untuk membuat senjata nuklir yakni 90 persen.

(isa/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK