Khamenei Sebut Iran Bisa Perkaya Uranium hingga 60 Persen

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 23/02/2021 08:40 WIB
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa negaranya bisa meningkatkan pengayaan uranium untuk bahan bakar nuklir hingga 60 persen. Fasilitas pengayaan uranium milik Iran. (Foto: HAMED MALEKPOUR / FARS NEWS AGENCY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa negaranya bisa meningkatkan pengayaan uranium untuk bahan bakar nuklir hingga 60 persen jika diperlukan. Hal ini melebihi batas yang disyaratkan dalam perjanjian yang disepakati pada 2015.

Di bawah kesepakatan nuklir yang sekarang, Iran diperbolehkan melakukan pengayaan uranium hingga 3,67 persen dan menyimpan cadangan tak lebih dari 300kg serta mengoperasikan tak lebih dari 5.060 mesin pemutar.

"Kami akan bertindak ke titik yang dibutuhkan dan negara mengharuskan. Kami dapat meningkatkan pengayaan hingga 60 persen untuk propelan nuklir dan keperluan lainnya," kata Khamenei mengutip AFP.


Pernyataan Khamenei disampaikan jelang batas akhir penetapan batas pengayaan uranium oleh parlemen Iran usai dilakukan inspeksi oleh Badan Energi Atom Dunia (IAEA).

Duta besar Iran untuk PBB, Kaze Gharibabadi mengatakan pembatasan baru akan berlaku mulai tengah malam.

"Instruksi yang diperlukan telah dikeluarkan untuk fasiltitas nuklir," kata Gharibabadi.

Kepala IAEA, Rafael Grossi dalam pertemuan terakhir di Teheran akhir pekan lalu mengatakan kedua pihak melakukan kesepakatan teknis selama tiga bulan untuk memenuhi tuntutan parlemen.

AS mengaku prihatin dengan aturan sementara pengayaan uranium itu dan mendesak Iran untuk sepenuhnya mematuhi verifikasi program nuklirnya.

Kesepakatan itu muncul ketika Iran, Presiden AS Joe Biden, dan Uni Eropa berupaya membuka pintu perundingan nuklir dengan mencabut sanksi terhadap Teheran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.

Kesepakatan itu hampir gagal sejak mantan Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi terhadap negara, lembaga pemerintah, badan usaha, hingga individu yang memberikan tekanan bagi Iran. Trump beralasan menjatuhkan sanksi karena Iran melanjutkan program rudal dan terlibat dalam konflik di Timur Tengah.

Merespons sanksi yang diberikan AS, selama setahun terakhir Iran secara bertahap membatalkan sejumlah komitmen, termasuk melanjutkan pengayaan uranium hingga 20 persen sejak awal 2021.

Menurut laporan perwakilan Iran untuk IAEA, Kazem Gharibabadi, proses pengayaan uranium menggunakan tiga mesin putar (centrifuge) yang terhubung. Salah satu di antaranya adalah mesin 1.044 IR-1, yang merupakan mesin pengayaan uranium generasi pertama yang dimiliki Iran.

Teheran berulang kali membantah tuduhan bahwa pengayaan uranium untuk membangun senjata nuklir. Iran menyatakan program nuklir yang mereka lakukan saat ini adalah untuk tujuan damai, yakni pembangkit energi.

Menurut laporan Kementerian Luar Negeri AS pada 2020, tidak ditemukan adanya indikasi Iran membuat senjata nuklir.

Akan tetapi, para pakar menyatakan cadangan uranium yang diperkaya dengan tingkat rendah di Iran saat ini cukup untuk membuat dua senjata nuklir jika memang mereka berniat melakukannya.

(evn/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK