Pelajar hingga Dokter Myanmar Rencanakan Demo Besar-besaran

CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2021 14:19 WIB
Pelajar hingga dokter di Myanmar berencana menggelar unjuk rasa besar di Pusat Kota Yangon, pada Kamis (25/2) untuk melawan kudeta militer. Demonstran anti-kudeta hiraukan larangan militer Myanmar. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelajar hingga dokter di Myanmar berencana menggelar unjuk rasa besar di Pusat Kota Yangon, pada Kamis (25/2) untuk melawan kudeta militer.

Para pelajar diminta membawa buku teks yang berisi pendidikan militer sehingga bisa dihancurkan saat unjuk rasa.

Sementara dokter-dokter akan mengadakan protes sebagai bagian dari apa yang disebut revolusi jas putih.


Banyak profesional dan pekerja pemerintah juga telah bergabung dalam kampanye pembangkangan sipil untuk melawan kudeta.

"Kami, para mahasiswa, harus menghancurkan kediktatoran," kata Kaung Sat Wai, 25, di luar kampus universitas Yangon seperti dikutip dari Reuters.

"Sejak kudeta, hidup kami menjadi tanpa harapan, impian kami telah mati."

Namun para mahasiswa tidak bisa turun ke jalan karena polisi memblokir gerbang kampus. Aparat berusaha menghentikan ratusan mahasiswa yang berusaha keluar.

Unjuk rasa telah berlangsung setiap hari selama sekitar tiga pekan sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu.

Militer merebut kekuasaan dari pemerintah sipil Myanmar setelah menuduh kecurangan dalam pemilu November lalu yang dimenangi oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi. Militer kemudian menahan Suu Kyi dan sebagian besar pimpinan partai.

Pada saat yang sama, sekitar 1.000 pendukung militer juga berkumpul untuk melakukan protes balasan di Yangon tengah.

Warga memukuli panci dan wajan untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka dan beberapa bentrokan terjadi di antara kedua belah pihak.

Kelompok HAM Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP) mengatakan hingga Rabu (24/2), sebanyak 728 orang telah ditangkap, didakwa, atau dijatuhi hukuman terkait protes pro demokrasi.

Panglima militer Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan pihak berwenang mengikuti jalur demokrasi dalam menangani protes, dan polisi menggunakan kekuatan minimal, seperti peluru karet, berdasarkan laporan media pemerintah.

Meski demikian, tiga pengunjuk rasa dan satu polisi tewas dalam kekerasan selama demonstrasi.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK