Tiga Demonstran Tewas dalam Aksi Tolak Kudeta Militer Myanmar

CNN Indonesia | Minggu, 28/02/2021 14:14 WIB
Pasukan keamanan dilaporkan menembak mati tiga orang demonstran dalam unjuk rasa menolak kudeta militer di Myanmar, Minggu (28/2). Polisi Myanmar membubarkan demonstran antikudeta dengan cara represif. (AFP/SAI AUNG MAIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pasukan keamanan Myanmar kembali menggunakan cara kekerasan dalam membubarkan aksi unjuk rasa anti-kudeta yang digelar hari ini. Laporan AFP, setidaknya ada 3 demonstran tewas dalam pembubaran tersebut.

Baik tentara maupun polisi menembakkan peluru karet, gas air mata dan meriam air demi membubarkan pengunjuk rasa yang kembali membanjiri jalanan. Selain 3 orang tewas, 20 orang lainnya terluka saat pasukan keamanan bergerak di kawasan pantai selatan Dawei.

Pyae Zaw Hein, petugas penyelamat, menyatakan ketiganya 'ditembak mati dengan peluru tajam'. Sementara lainnya terluka akibat peluru karet.


"Mungkin ada lebih banyak korban juga karena lebih banyak orang yang terluka terus berdatangan," kata Pyae seperti dikutip dari AFP.

Sementara itu petugas di pusat bisnis Yangon mulai membubarkan satu per satu kerumunan di pusat kota beberapa menit sebelum protes dimulai. Menurut Amy Kyaw, seorang guru SD, polisi mulai melepaskan tembakan saat rombongannya tiba.

"Mereka tidak memberi peringatan apapun. Beberapa terluka dan beberapa guru masih bersembunyi di rumah warga," katanya.

Gelombang unjuk rasa besar-besaran terjadi sejak 1 Februari 2021. Ini pun diikuti kampanye pembangkangan sipil sehingga mendorong pegawai negeri mengundurkan diri.

Menurut Assistance Association Political Prisoners (AAPP) lebih dari 850 orang ditangkap atau dijatuhi hukuman. Namun tindakan keras di akhir pekan ini mampu meningkatkan jumlah korban penangkapan secara drastis. Surat kabar negara melaporkan 479 penangkapan terjadi pada Sabtu (27/2) saja.

Di sisi lain, Suu Kyi tidak terlihat di depan umum. Ia ditahan selama penggerebekan dini hari di ibu kota Paypyidaw saat kudeta diluncurkan.

Ia bakal menghadapi persidangan pada Senin (1/3) dengan tuduhan tidak jelas atas kepemilikan walkie-talkie yang tidak terdaftar juga pelanggaran aturan pembatasan pada pertemuan publik selama pandemi. Namun sang pengacara, Khin Maung Zaw, menuturkan dirinya masih belum bisa menemui Suu Kyi.

"Sebagai pengacara saya menaruh kepercayaan saya di pengadilan dan pengadilan yang adil. Tapi dalam periode waktu ini apapun bisa terjadi," ujarnya.

(AFP/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK