Bentrok Polisi dan Pedemo Myanmar Kembali Telan Korban Jiwa

CNN Indonesia | Sabtu, 27/02/2021 17:31 WIB
Seorang perempuan di Kota Monwya tewas tertembak saat Kepolisian Myanmar bentrok dengan pedemo antikudeta, Sabtu (27/2). Ilustrasi Kepolisian Myanmar membubarkan demonstrasi antikudeta dengan meriam air. (AP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bentrokan antara demonstran antikudeta dengan aparat Kepolisian Myanmar kembali terjadi hari ini, Sabtu (27/2), hingga menewaskan seorang perempuan.

Dilansir Reuters, perempuan yang belum diketahui identitasnya dilaporkan itu tertembak peluru tajam dan tewas di tempat saat polisi membubarkan aksi unjuk rasa di Kota Monwya.

Sampai berita ini dibuat, Kepolisian Myanmar belum memberikan pernyataan apapun. Menurut laporan polisi juga menangkap dan menahan sejumlah awak media yang tengah meliput.


Di Kota Yangon, aparat kepolisian bertindak lebih represif dengan menangkap sejumlah orang yang sedang berkumpul dan bersiap-siap untuk berdemo.

Menurut laporan media setempat, polisi bersiaga sejak pagi untuk memantau pergerakan demonstran. Aparat juga mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa yang berkumpul.

"Mereka menggunakan meriam air terhadap massa demonstrasi damai, mereka seharusnya tidak memperlakukan masyarakat seperti itu," kata seorang demonstran, Aye Aye Tint.

Akan tetapi, meski sudah diadang polisi, massa tetap nekat berkumpul dan meneriakkan slogan-slogan bernada perlawanan. Polisi lantas bersikap represif dengan menembakkan gas air mata, granat setrum, dan melepaskan tembakan peringatan ke udara.

Aksi demo menentang kudeta juga terjadi di Kota Mandalay dan Dawei. Polisi menangkap sejumlah demonstran di Mandalay, salah satunya adalah anggota parlemen dari fraksi Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang merupakan seorang Muslim, Win Mya Mya.

Kejadian hari ini menambah jumlah korban tewas di tengah gelombang demo di Myanmar menjadi tujuh orang.

Angkatan Bersenjata Myanmar (Tatmadaw) yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan sipil terpilih yang dipimpin Penasihat Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint pada 1 Februari lalu.

Alasan militer melakukan kudeta adalah menjaga amanat Undang-Undang Dasar 2008 dan sengketa hasil pemilihan umum.

Militer Myanmar lantas menangkap Suu Kyi dan Win Myint, serta sejumlah politikus dari partai berkuasa, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Komisi Pemilihan Umum Myanmar membantah tuduhan kudeta itu.

Min Aung Hlaing mengatakan bakal menggelar pemilihan umum yang jujur dan bebas usai status masa darurat nasional selama satu tahun dinyatakan berakhir.

Infografis Jejak Seteru Suu Kyi vs Militer Myanmar dalam 1 Dekade(CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Saat ini Suu Kyi dijerat dengan dua perkara, yakni kepemilikan dan impor walkie-talkie ilegal serta melanggar UU Penanggulangan Bencana.

Sedangkan Win dituduh melanggar protokol kesehatan dan UU Penanggulangan Bencana saat berkampanye pada tahun lalu.

Kondisi dan keberadaan Suu Kyi saat ini tidak diketahui karena dipindahkan dari tahanan rumah di ibu kota Naypyitaw ke lokasi rahasia.

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK