Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam beberapa tahun terakhir, China semakin dipandang sebagai negara adidaya dan diawasi oleh setiap negara.
Di era kepemimpinan Presiden Jokowi, hubungan Indonesia dan China juga terus menguat. Sebagai contoh, China kini menjadi mitra dagang terbesar Indonesia.
Di kala perekonomian global merosot akibat pandemi virus corona, volume perdagangan bilateral China-Indonesia malah meningkat 5,4 persen pada Januari-November 2020, mencapai total US$33,1 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara khusus dengan CNN Indonesia secara virtual Januari lalu, Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, membeberkan alasan hubungan kedua negara kian "lengket".
Berikut ulasan wawancaranya.
Bagaimana perkembangan terkini soal hubungan bilateral RI-China?
Maret 2021 Indonesia-China merayakan 70 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara. Banyak yang sudah dicapai, meski banyak juga ups and downs-nya.
Pada Oktober 2013, relasi kedua negara naik level dari semula hanya Strategic Partnership menjadi Comprehensive Strategic Partnership. Ini ibaratnya dulu kita hanya berteman hingga kini kita bersahabat.
Yang pertama ingin saya tonjolkan adalah sinergi gagasan Presiden Joko Widodo mengenai Poros Maritim Dunia dengan gagasan Presiden Xi Jinping tentang Belt and Road Initiative.
Kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan China terkait sinergi visi kedua pemimpin, salah satunya dengan membentuk empat koridor ekonomi: di Sumatera Utra sebagai bisnis hub di ASEAN; Kalimantan Utara sebagai hub sektor energi dan mineral; di Bali sebagai hub teknologi tinggi dan kreatif, termasuk wisata; dan Sulawesi Utara sebagai hub Pasifik.
Persahabatan ini terlihat dalam angka kerja sama. Kerja sama perdagangan hingga investasi berkembang signifikan.
Pada periode Januari-November 2020, volume perdagangan antara kedua negara itu mencapai US$69,4 miliar, ini paling besar di dunia. Ini membuktikan bahwa meski di masa pandemi virus corona (Covid-19), hubungan perdagangan RI-China meningkat.
Nilai ekspor RI ke China juga mencapai US$33,1 miliar, saya kira ini paling banyak dibandingkan negara-negara lainnya. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2019.
Dalam bidang investasi, sampai September 2020, realisasi modal China di RI mencapai US$3,5 miliar, sementara investasi Hong Kong di Indonesia mencapai US$2,5 miliar.
Kalau China dan Hong Kong disatukan, nilai investasi di Indonesia mencapai US$6 miliar, termasuk yang terbesar. Sekarang China merupakan investor kedua terbesar di Indonesia.
Baru-baru ini, perjanjian perdagangan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) juga diteken Indonesia dan 14 negara lain.
Semoga ini, berkontribusi juga dalam meningkatkan perdagangan dan investasi RI-China. Apalagi dengan pengesahan Omnimbus Law, tentunya ini bisa semakin menciptakan situasi yang kondusif untuk investor di Indonesia.
Bagaimana prospek kerja sama pertahanan Indonesia dengan China ke depan?
Saya kira dengan kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, pada akhir 2019 itu banyak hal yang dibahas dengan China, juga soal kunjungan Menhan China ke Indonesia.
Ini semua tinggal implementasi kesepakatan-kesepakatan tersebut. Indonesia sebagai negara besar di kawasan kan perlu membangun aliansi strategis di dunia dengan para pemain besar, salah satunya kan China dan banyak negara lainnya.
Setelah ke China, Menhan RI kan berkunjung ke Rusia dan Amerika Serikat. Dari sini, kita lihat gambaran besarnya kenapa Menhan RI mengunjungi negara-negara besar itu.
Indonesia adalah negara besar di kawasan, perlu melakukan kerja sama juga dalam bentuk aliansi stretegic dengan pelaku global. Saya kita dilihat dalam konteks itu.
Bagaimana dengan kerja sama RI-China di masa pandemi? Apakah semakin menguat?
Saya kira sejak awal terjadi pandemi, kedua negara telah saling bantu. Saat awal virus corona muncul, Indonesia turut membantu China, ketika pandemi mulai merebak di Indonesia, China juga membantu. Intensitas kerja sama terlihat sekali dari Maret hingga Mei 2020.
Soal kerja sama vaksin juga kita terus melakukan pendekatan dengan Beijing terkait ini. Menlu RI dan Menteri BUMN pada Agustus lalu juga berkunjung ke China untuk menandatangani MoU kerja sama vaksin antara Biofarma dan Sinovac.
Realisasi juga sudah ada tiga juta vaksin Sinovac dikirim ke Indonesia, sekarang kita sedang bahas pengiriman 15 juta dosis vaksin curah.
Kerja sama Biofarma dan Sinovac juga bukan terkait pengadaan vaksin saja, tapi ada transfer teknologi. Jadi mudah-mudahan kerja sama pengadaan alat kesehatan dan pengadaan vaksin ini bisa memberikan manfaat signifikan untuk RI.
Indonesia Prioritas China?
Dubes RI untuk China Djauhari Oratmangun. (detikcom/Reno Hastukrisnapati Widarto)
Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang dapat vaksin Sinovac. Kabarnya, China juga sempat menolak permintaan asing setelah mengirimkan vaksin ke Indonesia. Apakah ini menandakan RI itu prioritas China?
Ini dugaan saya, kebutuhan domestik soal vaksin kan tinggi sekali di China karena mulai 1 Januari lalu vaksinasi mulai berlangsung.
Penduduk China kan banyak hingga 2 miliar. Berarti mereka harus memasok 4 miliar dosis vaksin. Selain dari vaksin buatan dalam negeri, China juga sudah pesan sekitar 100 juta dosis vaksin Pfizer/BioNTech.
Sejak 1 Januari lalu, China memprioritaskan 9 kelompok utama untuk divaksinasi. Di Beijing sendiri ada sekitar 200 tempat vaksinasi. Target China itu merampungkan gelombang pertama itu sebelum libur musim semi dan Imlek pada 12 Februari lalu, sekitar 50 juta warga yang masuk 9 kelompok utama sudah divaksinasi.
Tapi karena hubungan baik, China mau tetap menjual dan mengirimkan vaksin ke Indonesia. Maka dari itu, ini juga tidak lepas dari diplomasi pemerintah Indonesia.
Selain rencana penguatan kerja sama yang sudah disampaikan tadi, apa prioritas Indonesia ke depan dalam meningkatkan relasi bilateral dengan China?
Kita lanjutkan apa yang telah dilakukan. Prioritas 2021 itu lebih kepada membangun ketahanan kesehatan nasional (national health security). Untuk mencapai ini kan kita perlu lakukan kerja sama dalam bidang kesehatan seperti pengadaan alat kesehatan, obat-obatan, vaksin, dengan negara lain dan China salah satunya.
Pada 2019, salah satu perusahaan sudah ground breaking untuk membuat bahan baku obat di Indonesia. Perusahaan ini termasuk perusahaan produksi obat-obatan, termasuk Covid-19. Jadi perusahaan ini sudah berinvestasi di Indonesia sejak 2019.
Indonesia juga berencana memperkuat kerja sama obat tradisional dengan China. Kita memiliki jamu, China punya Traditional Chinese Medicine (TCM).
Kedua, mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Ini sudah kita lakukan dan akan dilanjutkan. Ini menjadi salah satu prioritas ke depan.
Ketiga, memperkuat sistem perlindungan WNI di China. Ini tercermin salah satunya ketika kami, Kedutaan Besar RI di Beijing, melakukan repatriasi pelajar dan mahasiswa RI dari China ke Indonesia di awal pandemi.
Ada beberapa agenda yang akan semakin ditekankan, salah satunya peningkatan perlindungan pekerja migran Indonesia terutama anak buah kapal (ABK).
Terkait masalah dugaan eksploitasi ABK di kapal ikan China, ini harus dilihat secara menyeluruh. Agen-agen yang mengirimkan para ABK itu kan berasal dari Indonesia, orang kita juga yang melakukan. Jadi penyelesaiannya harus dari hulu ke hilir.
Saya kira di dalam negeri, Kemlu RI pun sudah dilibatkan dalam proses ini. Jika ada masalah, kita koordinasikan untuk dibenahi, tapi lagi-lagi harus dari hulu ke hilir. Para agen jangan nakal, mengirimkan ABK kita ke kapal-kapal yang kelihatan ilegal atau tidak bertanggung jawab.
Keempat, kontribusi dalam memajukan dan membahas isu di kawasan. Tahun ini ASEAN-China rayakan 30 tahun kemitraan jadi kami ingin manfaatkan kerja sama regional dengan China juga untuk terus memperkuat hubungan bilateral.
Kelima, diplomasi untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah. Seperti yang selama ini banyak dipahami jika kedaulatan itu harga mati kan. Istilah bu Menlu itu kami tidak akan mundur sejengkal pun kalau sudah menyangkut kedaulatan. Ini juga termasuk prioritas kita.