AS Setop Vaksin Johnson & Johnson karena Penggumpalan Darah

CNN Indonesia | Selasa, 13/04/2021 19:08 WIB
Lembaga kesehatan federal AS menangguhkan penggunaan vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson setelah menemukan efek samping penggumpalan darah. Ilustrasi. (Reuters/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga kesehatan federal Amerika Serikat menangguhkan penggunaan vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson setelah menemukan efek samping penggumpalan darah.

AS mengambil keputusan ini setelah menerima laporan pembekuan darah terhadap enam perempuan berusia 18-48 tahun setelah menerima suntikan vaksin Johnson & Johnson.

Seorang perempuan bahkan dilaporkan meninggal setelah mengalami pembekuan darah dan satu wanita lainnya dalam kondisi kritis di rumah sakit.


Keenam perempuan tersebut dikabarkan mengalami efek samping itu setelah enam sampai 16 hari melakukan vaksinasi. Sejauh ini, para ahli khawatir respons sistem kekebalan tubuh yang dipicu vaksin menjadi penyebab pembekuan darah.

FDA menangguhkan penggunaan vaksin ini atas rekomendasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

"Hari ini, FDA dan CDC mengeluarkan pernyataan terkait vaksin Johnson & Johnson. Kami merekomendasikan penundaan penggunaan vaksin ini karena begitu banyak peringatan," demikian pernyataan FDA melalui Twitter.

Dengan keputusan itu, pemerintah federal AS akan menyetop distribusi dan penggunaan vaksin Johnson & Johnson itu ke tempat vaksinasi di seluruh penjuru Negeri Paman Sam.

Setidaknya hampir tujuh juta warga AS telah menerima vaksin Johnson & Johnson sejauh ini. Sebanyak sembilan juta dosis vaksin tersebut juga telah didistribusikan ke luar Amerika.

Sementara itu, sejauh ini AS juga menggunakan vaksin dari dua perusahaan lain, yakni Pfizer-BioNTech dan Moderna.

[Gambas:Video CNN]

Di luar vaksin, berdasarkan data CDC, sekitar 300-600 ribu warga AS mengalami pembekuan darah setiap tahun.

Keputusan ini menjadi pukulan baru bagi Johnson & Johnson.

Akhir Maret lalu, perusahaan menemukan salah satu pekerja di pabrik produksi di Baltimore yang dijalankan subkontraktornya secara tidak sengaja mencemari vaksin. Insiden itu membuat perusahaan membuang 13-15 juta dosis vaksin.

(rds/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK