KILAS INTERNASIONAL

RI Bisa Dapat Kuota Haji hingga Tentara Myanmar Terpaksa Keji

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 06:32 WIB
Sederet kabar meramaikan berita internasional Kamis (15/4), dari dubes Saudi sebut RI bisa dapat kuota haji hingga tentara Myanmar terpaksa kejam demi keluarga. Ilustrasi. (AP/Amr Nabil)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sederet kabar meramaikan berita internasional pada Kamis (15/4), mulai dari dubes Arab Saudi menyebut Indonesia bisa mendapat kuota ibadah haji tahun ini hingga pengakuan tentara Myanmar yang terpaksa kejam agar keluarganya selamat.

1. Dubes Saudi Sebut Indonesia Bisa Dapat Kuota Haji Tahun Ini

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Esam Abid Altaghafi, optimistis ibadah haji akan diselenggarakan tahun ini di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, Indonesia kemungkinan mendapatkan kuota haji tahun ini.

"Insyaallah akan ada berita bagus terkait hal itu. Kami juga masih menunggu informasi ataupun berita terbaru, tapi insyaallah akan ada ibadah haji untuk Muslim di Indonesia serta Muslim di dunia," ujar Esam Abid di Jakarta, Kamis (15/4), seperti dikutip Antara.


Meski demikian Esam belum dapat memastikan waktu pasti penyelenggaraan haji resmi diumumkan kepada Muslim di Indonesia maupun di negara lain.

Esam mengatakan bahwa salah satu persyaratan ibadah haji tahun ini adalah umat harus sudah mengikuti vaksinasi Covid-19.

"Bagi Muslim di Indonesia dan juga bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia apa yang harus mereka siapkan yakni terkait vaksinasi," katanya.

2. Pengakuan Tentara Myanmar Terpaksa Kejam agar Keluarga Aman

Myanmar masih bergejolak dengan kekerasan militer terhadap para demonstran antikudeta. Di tengah ketegangan ini, seorang mantan tentara Myanmar mengaku risih dengan perintah membunuh warga sipil yang dicurigai mengikuti demonstrasi.

Meski begitu, ia tidak bisa berbuat banyak karena khawatir junta militer menyakiti keluarga mereka jika nekat bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil (CDM).

Meski kekhawatiran itu terus muncul, tetapi ada sejumlah perwira militer Myanmar yang nekat lari dari tugas (desersi), seperti Kapten Lin Htet Aung.

"Mereka yang tinggal di kompleks militer pada dasarnya ditawan. Mereka (junta) menggunakan anggota keluarga untuk mengawasi para tentara sehingga mereka tidak dapat bertindak dengan bebas. Jika ada tentara yang ingin lari, dia harus membawa serta keluarganya," kata Lin.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Lin, dalam sebulan terakhir ada empat tentara, termasuk seorang kapten dari Divisi Infanteri Ringan 77 yang diterjunkan menghadapi pedemo di Yangon, memilih bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

Kini, para tentara pembelot itu bersembunyi di wilayah yang dikuasai milisi etnis. Dia memperkirakan sekitar 75 persen tentara Myanmar bakal desersi jika keluarga sudah dijamin aman dan mendapat perlindungan.

3. Situasi Memanas, Rusia dan Ukraina Latihan Militer Serentak

Dari kawasan Barat, kabar ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga ramai. Kedua negara kini dilaporkan mengadakan latihan militer serentak pada Rabu (13/4).

Seperti dilansir Reuters, Angkatan Laut Rusia memulai latihan di Laut Hitam dengan menembak ke arah target darat dan udara.

Latihan itu dilakukan sehari setelah Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, meminta Moskow berhenti mengirim pasukan ke perbatasan Ukraina untuk menghindari peperangan.

Sementara itu di Ukraina, angkatan bersenjata berlatih menangkis serangan tank dan infanteri di dekat perbatasan Crimea yang dicaplok Rusia.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK