Situasi Memanas, Rusia dan Ukraina Latihan Militer Serentak

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 15:30 WIB
Rusia dan Ukraina mengadakan latihan militer serentak pada Rabu (13/4) di tengah tensi ketegangan kedua negara semakin memanas. Ilustrasi militer Rusia. (AP/Hayk Baghdasaryan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rusia dan Ukraina mengadakan latihan militer serentak pada Rabu (13/4) di tengah tensi ketegangan kedua negara semakin memanas.

Latihan itu digelar ketika menteri luar negeri dan menteri pertahanan NATO memulai diskusi darurat tentang pengerahan pasukan Rusia di dekat perbatasan Ukraina.

Amerika Serikat dan NATO khawatir dengan pengerahan besar-besaran pasukan Rusia di dekat Ukraina dan di Krimea, semenanjung yang dianeksasi Moskow pada 2014.


Seperti dikutip dari Reuters, Angkatan Laut Rusia memulai latihan di Laut Hitam dengan menembak pada target permukaan dan udara.

Latihan itu dilakukan sehari setelah Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg meminta Moskow berhenti mengirim pasukan ke perbatasan Ukraina untuk menghindari peperangan antara kedua negara.

Sementara di Ukraina, angkatan bersenjata berlatih menangkis serangan tank dan infanteri di dekat perbatasan Krimea yang dicaplok Rusia.

Menteri Pertahanan Ukraina Andrii Taran, mengatakan kepada anggota parlemen Eropa di Brussel bahwa Rusia sedang bersiap untuk menyimpan senjata nuklir di Krimea.

Meski tidak membeberkan bukti, tetapi Taran mengatakan Rusia mengumpulkan 110.000 tentara di perbatasan Ukraina dalam 56 kelompok taktis seukuran batalion.

Rusia menggelar latihan tempur di Laut Hitam beberapa saat menjelang kedatangan kapal perang AS di perairan itu.

AS mengirimkan dua kapal perang ke Laut Hitam yang diperkirakan tiba pekan ini sebagai bentuk dukungan terhadap Ukraina yang terintimidasi oleh peningkatan kehadiran tentara Rusia di perbatasan kedua negara.

Rusia menentang keras langkah AS tersebut dan menganggapnya sebagai tindakan provokatif. Moskow pun memperingatkan Washington untuk menjauh dari Krimea dan pantai Laut Hitam.

Rusia sendiri mengaku mengerahkan pasukan ke perbatasan Ukraina sebagai kesiapan tempur atas ancaman dari NATO.

Sebab Moskow mengatakan NATO mencoba mengganggu kestabilan wilayah dengan mengerahkan pasukan di kawasan Baltik dan Polandia sejak Rusia mencaplok Krimea.

Pertempuran meningkat dalam beberapa pekan terakhir di timur Ukraina, tempat pasukan pemerintah memerangi separatis yang didukung Rusia dalam konflik tujuh tahun. Sebanyak 14.000 orang dilaporkan tewas dalam pertempuran itu.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan NATO akan membahas tindakan agresif Rusia di dan sekitar Ukraina.

Hubungan Rusia dengan AS merosot ke titik terendah baru pasca-Perang Dingin setelah Presiden Joe Biden menyamakan Presiden Vladimir Putin dengan pembunuh dalam salah satu wawancara media pada Maret lalu.

Dalam panggilan telepon dengan Putin pada hari Selasa, Biden mengusulkan diadakannya pertemuan puncak antara para pemimpin untuk mengatasi sejumlah masalah, termasuk mengurangi ketegangan atas Ukraina.

(dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK