JEJAK PERADABAN ISLAM

Kemurahan Hati Sultan Salahuddin saat Taklukkan Yerusalem

CNN Indonesia | Kamis, 22/04/2021 20:03 WIB
Salahuddin Al Ayyubi atau Saladin dikenang dalam sejarah karena berhasil merebut Yerusalem dari kekuasaan kelompok Nasrani. Ilustrasi Kota Yerusalem. (AHMAD GHARABLI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Salahuddin Al Ayyubi atau Saladin dikenang dalam sejarah karena berhasil merebut Yerusalem dari kekuasaan kelompok Nasrani pada 2 Oktober 1187.

Penaklukan Saladin berbeda dari cara penaklukan sebelumnya saat tentara Perang Salib atau Kesatria Kenisah (Knights of Templar) menduduki Yerusalem pada 1099.

John Man dalam buku Shalahuddin Al Ayyubi: Riwayat Hidup, Legenda dan Imperium Islam menyebut Saladin sebagai perwujudan impian dan keinginan.


Penggambaran kehalusan Saladin saat merebut Yerusalem juga dituliskan oleh Karen Armstrong dalam buku Perang Suci.

"Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Saladin menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan akibat keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Dan ia pun membebaskan banyak dari mereka, sesuai imbauan Alquran," tulis Amstrong.

Sebelum benar-benar merebut Yerusalem, Saladin terlebih dahulu merebut kota-kota di sekitarnya seperti Jebail, Arcre, Nazareth, Sepphoris, Tabor, Sebaste, Nablus, Haifa dan Arsuf.

Saat tiba di dekat dinding Yerusalem, Saladin melihat kota itu dijaga dengan ketat. Bentengnya diperkuat dan parit diperdalam untuk menyulitkan gerak pasukannya.

Ujung barat tempat ia berkemah, merupakan wilayah yang sulit ditembus. Hal itu, menurut John Man dilakukan sebab lokasi itu merupakan kunci untuk memasuki kota.

Untuk menembus pertahanan, Saladin menggunakan ketapel raksasa dan mengerahkan pasukan pemanah.

Kerajaan Yerusalem meminta bantuan, tetapi tidak mendapat tanggapan.

Saladin dan pasukannya mengepung Yerusalem dari 20 September hingga 2 Oktober 1187.

Kesatria Kenisah Balian dari Ibelin yang mewakili Kerajaan Yerusalem pun datang berunding dengan Saladin. Namun, perundingan itu buntu.

Akan tetapi, Balian masih memiliki taktik bumi hangus.

Jika Saladin tak menurutinya, ia beresiko kehilangan kota yang didamba-dambakan selama ini. Hanya dengan perjanjian damai, ia yakin akan mendapat yang diinginkan.

"Jadi lebih karena alasan taktis daripada alasan pribadi sehingga dia mengabaikan pembalasan dendam dan pengampunan," jelas John.

Ketentuan penyerahan diri pun dilaksanakan pada 2 Oktober 1187. Orang-orang Kristen menebus dirinya dengan membayar 10 dinar untuk laki-laki, 5 dinar perempuan, 1 dinar untuk anak-anak yang harus dibayar dalam waktu 40 hari.

Bagi mereka yang tidak mampu membayar, harus bersiap untuk menjadi budak.

Tak hanya itu, kuda-kuda serta perlengkapan perang juga harus diserahkan.

Saladin juga menghargai anak-anak. Mereka yang datang, diberi jubah dan makanan, setelah itu, ia memangkunya.

Saladin juga membantu para istri dan anak-anak perempuan dari kesatria yang gugur dalam perang.

"Saladin tidak pernah sebahagia ini, seperti yang ditulisnya dengan bangga kepada Khilafah bahwa dia telah memenuhi tujuan utamanya: menyatukan Islam," terang John Man dalam bukunya.

Orang-orang Muslim, kata John Man, membalaskan dendam mereka atas penaklukan Yerusalem dan semua dicapai tanpa pertumpahan darah dan kehancuran sebagaimana saat kaum Nasrani merebutnya.

"Islam menang dua kali, secara militer dan secara moral."

(isa/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK