Presiden Chad Meninggal usai Pimpin Perang Lawan Pemberontak

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 19:45 WIB
Setelah 30 tahun berkuasa, Presiden Chad, Idriss Deby Itno, meninggal dunia, Selasa (20/4), akibat luka setelah perang melawan pemberontak akhir pekan lalu. Setelah 30 tahun berkuasa, Presiden Chad, Idriss Deby Itno, meninggal dunia, Selasa (20/4), akibat luka setelah perang melawan pemberontak akhir pekan lalu. (AFP/Marco Longari)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah 30 tahun berkuasa, Presiden Chad, Idriss Deby Itno, meninggal dunia pada Selasa (20/4) akibat luka setelah memimpin perang melawan pemberontak di utara negara itu akhir pekan lalu.

"[Deby] mengembuskan napas terakhirnya setelah membela kedaulatan negaranya di medan perang," ujar juru bicara tentara Chad, Azem Bermandoa Agouna, seperti dikutip AFP.

Tentara Chad melaporkan bahwa pertarungan pada akhir pekan itu menewaskan sekitar 300 personel dari kelompok pemberontak Front for Change and Concord in Chad (FACT).


Sementara itu, FACT menyatakan bahwa presiden Chad juga terluka dalam perang itu. Namun, pemerintah Chad tak memberikan konfirmasi apa pun hingga akhirnya tentara mengumumkan bahwa sang pemimpin meninggal dunia di usia 68 tahun.

Pihak tentara menyatakan bahwa Deby memimpin militer melawan FACT yang sudah melancarkan serangan sejak pemilihan umum digelar pada 11 April lalu.

Sepeninggal Deby, Chad akan dipimpin oleh anak sang mendiang presiden yang menjabat sebagai kepala dewan militer, Mahamat Idriss Deby Itno.

[Gambas:Video CNN]

Selama ini, Mahamat sudah kerap tampil bersama Deby karena ia menjabat sebagai kepala pasukan pengawal presiden.

Deby sendiri sudah memimpin Chad sejak melakukan kudeta militer pada 1990 silam. Sejak saat itu, ia terus berada di pusaran pemerintahan Chad dan kembali terpilih sebagai presiden pada pemilu pekan lalu dengan meraup 80 persen suara.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK